Rabu, 12 Desember 2012

Pada Senja

Pada Senja


(Untuk yang menunggu dengan lilin temaram, kue cokelat, dan botol biru
dan yang terkubur bersama daun terakhir
diantara 8 akar pohon Oak
Pada senja yang layu, musim gugur yang dulu)

*

            Angin berhembus mesra sore itu, menerbangkan beberapa helai daun yang masih setia pada ranting pohon oak yang keriput. Penuh pilu memandangi sebuah rumah tua dari pojok taman. Rumah yang dingin dan tidak bahagia, dengan seorang gadis yang penyakitan ditemani nenek tua dan burung gagak hitamnya. Ada yang janggal dengan komposisi keluarga ini.
          Sore ini Lana, si gadis, duduk di depan jendela kamarnya di lantai kedua. Bisik-bisik penduduk mengatakan bahwa ia terbelakang. Tapi tanda-tanda keterbelakangan itu tidak tampak dari fisiknya. Ia hanya terlalu kurus dan terlalu pucat. Kedua bola matanya yang coklat jernih menyeret yang melihatnya terperosok ke jurang di tengah irisnya. Tidak ada yang berani menatapnya lama-lama. Ia juga sering tertangkap berdialog dengan si pohon oak dan menangisi tiap helai daun yang jatuh.
           Matahari hampir masuk ke kantung tidurnya. Gelap. Lana tidak pernah menutup jendela kamarnya, seolah menunggu sesuatu yang tak pernah datang. Malam ini si Nenek belum juga pulang bersama gagak hitamnya, Hubby. Tidak biasanya mereka terlambat pulang. Nenek bilang ia hanya keluar menjual sayuran dan menukarkannya dengan beberapa ubi di kota.
         Bintang mulai bergantian menampakkan wajahnya. Lana tahu banyak rasi, Orion, Crux, bahkan beberapa tipe Ursa Mayor. Ia sering memuji Sirius dan Capella yang seolah selalu tepat ada di halaman rumahnya.
            Apa itu termasuk ciri idiotisme?
          Malam ini ada lilin kecil menari di sudut jendela kamarnya. Sengaja ia hidupkan agar nenek dan Hubby bisa pulang ke rumah walaupun mereka lupa yang mana jendelanya.

Senja yang dingin di musim gugur.
          Tidak pernah ada kicauan burung di sini. Padahal begitu banyak burung gereja bertengger di balkon rumah seberang. Mungkin burung-burung itu enggan bertengger di pohon Oak tua yang berakar lapuk dan bau.
          Nenek dan Hubby belum juga pulang. Lana duduk menatap ke jalan di bawahnya. Di sebelahnya lilin tadi malam masih menyala.Perutnya terasa terus mengernyit. Tak satupun makanan masuk ke perutnya sejak nenek pergi. Ah, baru sehari, bathinnya. Toh nenek pernah meninggalkannya tanpa makanan sedikitpun hampir seminggu.
          Mungkin Lana hanya perlu lebih banyak menunggu..

Senja yang sendu di musim gugur.
        Hanya sejumput daun yang masih bertahan di ranting Oak yang tua dan keriput. Mereka merengek pada Sang angin agar tidak diseret ke tanah yang bau.
         Ini sudah hari ke tujuh Nenek dan Hubby tidak pulang. Akhirnya Lana yang lapar memutuskan keluar dari kamarnya, menuju ke ruang tengah, tempat nenek biasa bermain scrabble. Ia menemukan sekotak biskuit coklat di atas meja nenek. Haruskah Ia memakannya? bathinnya mulai berperang. Tapi kemudia Ia kembali ke kamarnya dan menaruh sekotak biskuit coklat itu di sudut jendela, tepat diseberang lilin di salah satu sudut lainnya. Nenek dan Hubby suka biskuit coklat. Mungkin mereka akan pulang jika ada biskuit coklat disana.
         Ia hanya perlu lebih banyak menunggu...

Senja yang muram di musim gugur.
         Lana mulai lelah. Kantung matanya membesar. Ia hampir tidak pernah tidur beberapa minggu ini, duduk di balik jendela kamarnya, mengawasi gerak-gerik malam sambil menunggu Nenek dan Hubby yang tidak juga pulang. Kadang Ia terlelap, lalu terbangun dengan perasaan kecewa karena biscuit coklat untuk Nenek dan Hubby pun masih utuh.
          Sementara itu dilihatnya sudah tidak ada satu pun daun yang tersangkut di ranting pohon Oak tua yang keriput. Lana ingat akan daun terakhir yang gugur kemarin sore. Daun itu masih segar. Tapi angin kencang terus mencumbunya, membujuk agar ia ikut ke tempat yang antah berantah.
Namun daun itu sempat mampir ke tepi jendela kamar Lana, seolah ingin menyampaikan penghormatan terakhir pada gadis yang selama ini menungguinya dari tepi jendela. Dengan tubuhnya yang rapuh, Lana memutuskan untuk memakan saja daun terakhir itu. Untuk kenang-kenangan jika saja Ia tidak sempat melihat daun baru lagi di pohon oak yang tua dan keriput saat musim semi tahun depan.
       Tapi selembar daun segar rasanya tak sanggup lagi membuat seluruh anggota tubuhnya yang mulai menggerutu itu kembali tertawa.
         Lana hanya perlu lebih lama menunggu. Tapi berapa lama?

Senja yang mati di musim gugur.
        Ada sebuah jendela tepat di seberang pohon oak yang tua dan keriput. Beberapa hari yang lalu, seorang gadis dengan setia duduk dibelakangnya. Namun ia jadi hampir selalu menangis, meratapi tiap helai daun yang jatuh di musim gugur ini. Sekarang di jendela itu hanya ada lilin yang padam, sekotak kue coklat, dan botol biru.
        Di dalam botol biru itu ada sepucuk surat yang ditulis oleh Lana. Pucuk-pucuk angin menceritakan bahwa isinya mengenai kegelisahannya akan Nenek dan Hubby yang tak kunjung pulang, para daun yang tidak lagi setia dan memilih pergi bersama angin ke negeri impian. dan ia yang layu karena harus menunggu terlalu lama.
        Ada juga baris-baris tentang bagaimana ia ingin tinggal dengan pohon oak yang tua dan keriput, agar mereka sama-sama tidak perlu kesepian lagi. Agar ia tidak perlu waktu lebih lama lagi untuk menunggu.

*

       Aku olive. Aku sudah berpuluh kali mendengar kisah tentang gadis yang dulu tinggal di seberang rumahku. Tubuhnya ditemukan terbujur kaku di pojok kamar dengan sorot mata yang beku, seperti orang yang sudah lama sekali menunggu. Oh ya, dia meninggalkan sepucuk surat di dalam botol biru yang mengindikasikan bahwa ia ingin dikuburkan di antara 8 akar pohon oak yang tua di pojok taman.
       Tapi kejadian itu kan sudah lama sekali. Mungkin saat nenek baru lahir. Sekarang rumah itu makin rapuh, hampir seperti wajah yang sedang menggerutu.
        Dan pohon Oak itu..
       Tidak pernah punya daun lagi. Bahkan saat musim semi sekalipun. Tapi ranting-rantingnya yang rapuh itu terus tumbuh, menyebrangi jalan kecil, dan kini hampir mencapai jendela kamarku.
      Kau tahu,pohon oak itu hanya dipenuhi sarang burung. Puluhan gagak mendiaminya. Setiap malam gagak-gagak itu berkumpul, menyuarakan bunyi-bunyian aneh. Terdengar seperti nyanyian kematian untuk yang terkubur diantara 8 akar pohon Oak, membuatku seolah paham tiap baitnya..

(Untuk yang menunggu dengan lilin temaram, kue cokelat, dan botol biru
dan yang terkubur bersama daun terakhir
diantara 8 akar pohon Oak
Pada senja yang layu, musim gugur yang dulu).