I
Kamu memulainya dengan setangkai bunga mawar merah muda. Hanya setangkai, dan kamu tidak pernah tahu betapa penting artinya di hari itu. Bila nyatanya kamu adalah orang yang salah di waktu yang benar pun ia tidak peduli. Yang ia tahu, dari pangkal ubun-ubun sampai ujung kuku-kuku kakinya meneriakimu pahlawan, penyelamat mereka hari itu.
II
Ceritamu malam itu menjadi lembar favoritnya. Entah apa alasanmu tidak memberi tahunya dari dulu. Tapi yang tidak kamu tahu, ia bangga padamu. Sejak saat itu, ia berharap bisa membesarkan beberapa anak yang kuat sepertimu. Dan diam-diam ia berjanji, seberapa sulit pun jadinya hidup denganmu nanti, ia tidak akan meninggalkanmu. Ia ingin sekuat kamu.
III
Ia tahu betul bahwa waktu berputar dan mengubah semua di dalamnya, termasuk mungkin kamu, mungkin juga ia sendiri. Maka disimpannya baik-baik rekam jejak percakapan kalian dari awal, untuk kemudian dibukanya tiap ia merasa kamu terbawa waktu. Dibacanya sebelum tidur sejak tidak lagi kamu ucapkan selamat tidur untuknya. Dibacanya bangun tidur sejak tidak lagi kamu kirimkan selamat pagi untuknya. Ia bahagia dengan menikmati jejakmu.
IV
Kata orang cinta itu ada kadaluarsanya. Kamu menolak. Ia juga. Kemudian kalian menentang tiap-tiap penyebab kadaluarsanya, bersitegang mempertahankan apa yang kalian punya. Kalian bertahan, namun kelelahan. Kemudian mendapati kelegaan tiap kali keluar lingkaran. Kamu merasa lebih hidup tanpanya, ia merasa lebih damai tanpamu. Kalian menyerah. Menyerah untuk hidup yang tampaknya akan lebih bahagia.
Epilog
Tidak tahu denganmu, tapi ia masih meracau mencari kesenangannya yang dulu. Matanya tidak lagi sembab, namun tidak juga tertarik melakukan apapun kecuali tidur. Dua puluh empat jam masih terlalu panjang untuk dilaluinya sendirian tanpamu.
Senin, 12 Agustus 2013
Senin, 05 Agustus 2013
Ironi Untukmu
Kamu mengenalnya beberapa hari, kemudian memutuskan untuk tetap tinggal dengannya seumur hidupmu, hanya karena ia manis dan lucu, menurutmu waktu itu. Kamu lupa bahwa setiap orang memiliki beberapa topeng. Mungkin ia memakai topeng favoritmu minggu itu. Dan hanya minggu itu.
Beberapa bulan kemudian,
Kamu berselisih dengannya beberapa hari, dan memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi seumur hidupmu, hanya karena ia seperti monster yang memata-mataimu sepanjang waktu, pikirmu waktu itu. Kamu lupa bahwa setiap orang memiliki sisi gelap, selain sisi terangnya. Mungkin itu sisi gelapnya yang hanya mampir sejenak. Atau malah jangan-jangan itu sisi terangnya yang biasa kamu lihat namun dengan tidak sengaja kamu pula yang memadamkannya.
Beberapa bulan kemudian,
Kamu berselisih dengannya beberapa hari, dan memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi seumur hidupmu, hanya karena ia seperti monster yang memata-mataimu sepanjang waktu, pikirmu waktu itu. Kamu lupa bahwa setiap orang memiliki sisi gelap, selain sisi terangnya. Mungkin itu sisi gelapnya yang hanya mampir sejenak. Atau malah jangan-jangan itu sisi terangnya yang biasa kamu lihat namun dengan tidak sengaja kamu pula yang memadamkannya.
Langganan:
Postingan (Atom)