Kamis, 28 Agustus 2014

"Setiap mantan akan nikah pada waktunya, dan ga akan ada pengaruhnya sama waktu tiba jodoh kita yang hakiki.
Yok, udahan sedihnya :)"

Terima kasih, ya. Entah kenapa kalimat itu efektif sekali untuk membangunkan saya. Saya beruntung kenal kamu. Semoga Allah kasih manfaat yang banyak buat orang yang banyak manfaatnya kayak kamu ya :))

Jejak


Kemudian aku bersandiwara. Tentang jejakmu yang sudah dimakan ngengat

dan aku yang sudah berhenti mengingat-ingat.

Selasa, 26 Agustus 2014

prolog











Candace
Menatap cermin sekali lagi, kemudian menebalkan gincu dan perona pipi untuk kembali bersembunyi. Bersembunyi dari dirinya sendiri, yang lelah dan sangat jenuh dalam hal bertahan; ini terkait dengan konka yang menebal, bronkus yang berlubang, getah bening yang meradang, penghantar saraf yang menyimpang, sampai kepribadian yang terpecah-yang terakhir tidak pernah diterimanya sebagai kebenaran walaupun yang lain juga tidak pernah disebutkannya dalam wawancara rekam medik.
Sekali lagi Candace bercermin. Kali ini ia yakin, ia bugar dan karenanya terlihat cantik. Dan oleh sebab itu pula ia berhak bahagia.
Memangnya apa yang lebih penting dari rupa?


Quentin
Menatap cermin sekali lagi, kemudian menambahkan sedikit jel agar tampak klimis untuk kembali bersembunyi. Kembali bersembunyi dari dirinya sendiri yang lelah dan sangat jenuh dalam hal berbenah; ini terkait dengan banyaknya orang-orang hina yang ditemuinya dalam usaha untuk mendapat tambatan hati-yang mana ia yakin bahwa ia adalah lelaki baik-baik yang pantas, dan hanya pantas, untuk mendapatkan perempuan baik-baik walaupun nyatanya selama ini yang datang padanya melulu orang yang tidak baik.
Sekali lagi Quentin bercermin. Kali ini ia yakin, ia klimis dan karenanya terlihat baik. Dan oleh sebab itu pula ia berhak bahagia.
Memangnya apa yang lebih penting dari hati?


Ini bukan picisan.
Belilah novel ringan atau buku tentang rahasia kaya tujuh turunan jika ingin bacaan yang menyenangkan.

Minggu, 03 Agustus 2014


Bukannya dengki. Tapi tidak sampai pula mengagumi.
Ini rasanya seperti..
Duh. Bagaimana ya menjelaskannya?
Begini,


Anggap kau adalah seorang anak perempuan yang kesepian. Suatu hari, wali kelasmu mengumumkan bahwa ia akan memberikan seekor anjing bagi yang mendapat nilai tertinggi di kelas. Itu bukan jenis anjing dengan bulu mewah, atau berparas setengah serigala. Sekedar anjing biasa, yang lucu, dan hangat. Kemudian wali kelasmu menitipkan anjing itu padamu, untuk kau rawat, sampai hari pembagian rapor tiba.

Maka kau bawa anjing itu pulang ke rumahmu, kau ajak bicara, kau beri makan, kau ajak jalan-jalan, kau beri nama, kau pajang foto kalian saat bermain di taman kota di lokermu seolah-oleh ia benar-benar sudah jadi anjingmu. Milikmu. Dan perlahan, kau mulai merasa tidak lagi kesepian.

Namun saat hari pembagian rapor tiba, wali kelasmu memberikan anjing itu ke anak perempuan di bangku sebelah, yang tentu saja karena ia mendapat ranking pertama. Kemudian kau dipaksa untuk tetap kuat saat menyerahkan anjing -yang selama ini sudah kau anggap milikmu- itu. Bagaimana dengan si anjing? Anjingmu tampak riang. Mungkin karena ia bangga menjadi milik Sang Juara Kelas.


Apa yang kau rasakan tiap melihat Si Anak Perempuan di Bangku Sebelah?

Ya. Seperti itulah yang kumaksud kiranya.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Sebuah Dongeng Tentang Menunggu



Namun yang saya tahu tentang menunggu,
semakin saya coba berdamai dengan waktu, semakin ia coba membunuh.

Perihal Ketakutan

"Perihal ketakutan. Ia adalah yang datang padamu dengan terburu-buru ketika kau membayangkan cuaca buruk, kucing yang kelewat gemuk, nyala api yang berkobar, kabar yang tak ingin kau dengar, penyakit yang tak kunjung sembuh, hingga kekasih yang selingkuh".
Dahimu berkerut. Kemudian kau mencela bertubi-tubi dalam hati tentang bagaimana bisa aku takut dengan kucing yang gemuk. "Kau kelewat penakut", simpulmu akhirnya dengan memaksa senyum.

Barangkali itu pula sebabnya kau pergi.
Supaya aku bisa belajar untuk tidak takut lagi.