Kepada Aku yang Serba Kamu,
Wahai Kau, Aku yang Serba Kamu, tahukah?
Sungguh rindu Aku pada Aku yang menjadi pendamba tentramnya cangkangku. Pada aku yang berselimut hangat, menyesap secangkir kopi pekat, melihat keluar jendela lekat lekat, sambil tak hentinya bersyukur karena Aku aman dari sekelebat mendung berhias kilat di luar sana.
Rindu pada Aku yang berpuisi. Mengolah rasa untuk menepikan logika. mengacak diksi untuk memerangkap fiksi yang kuciptakan sendiri.
Rindu pada Aku yang menulis sederet daftar ambisi. Menyusun strategi, merencanakan kompetisi. Melamunkan rangkaian pidato kemenangan sesekali.
Rindu pada Aku yang tidak mau tahu tentang sudah berapa banyak pelangi yang kulewati. Pada Aku yang tidak peduli bagaimana menyenangkannya bermain dengan semesta. Pada Aku yang tak jengah untuk hanya menatap dari jendela. Pada Aku yang tidak ikut-ikutan mendamba hamparan pasir, gulungan ombak, apalagi makhluk laut yang aneh-aneh.
Aku rindu pada Aku yang tidak aneh.
Karena, Wahai Aku yang Serba Kamu, terasa tidak?
Semenjak tidak ada lagi Kamu yang Menyerba-kamu-kan Aku, jadi membosankan cangkangku, tumpul diksiku, mati ambisiku. Jadi mesti dengan caramu Aku yang Serba Kamu ini bisa menebus selengkung senyum. Padahal tahu betul Aku bahwa harus bersegera Aku untuk berhenti menjadi serba Kamu karena tak akan sudi pula Kamu jika yang jadi serba Kamu itu Aku.
Maka, Wahai Aku yang Serba Kamu, mohon kembalikan ke-aku-an-ku.
Dari Aku yang Benar-Benar Aku
Minggu, 23 Maret 2014
Selasa, 18 Maret 2014
Pernah tidak, kamu merasa tidak diprioritaskan oleh orang yang kamu prioritaskan?
Saya pernah. Baru saja.
Rasanya pahit. Pahit dan melelahkan.
Lelah sampai-sampai untuk mencari sebungkus permen untuk mengobatinya pun saya malas. Kemudian bahkan saya mulai ragu, kapan bisa kembali siap untuk berharap.
(Tulisan di diary digital saya, tertanggal 24 Februari 2014. Kamu ingat kenapa?)
Minggu, 16 Maret 2014
Kamis, 13 Maret 2014
Perihal Menikah
Memutuskan menikah itu tentang memutuskan dengan siapa kamu rela berbagi es krim, kopi, selimut, dan semua hal yang kamu senangi, untuk seumur hidupmu. Juga tentang memutuskan dengan siapa kamu percayakan pembagian tugas untuk memelihara orang tua dan saudara saudarimu di hari tua mereka. Kemudian tentang dengan siapa kamu rela berbagi jam tidur untuk menimang bayi-bayi kecilmu nanti saat mereka tiba-tiba histeris di malam hari.
Dengan siapa kamu menyesap kopi kental di tepi jendela sambil menikmati merahnya langit sore.
Dengan siapa kamu menghitung rintik hujan sambil menghirup aroma rumput yang baru dipangkas di halaman depan.
Dengan siapa kamu berbagi selimut hangat kesayanganmu sambil memetakan benda-benda langit yang muncul tiap malam dengan wajah yang tidak pernah sama dan kamu selalu bingung karenanya.
Dangkal ya?
Iya.
Bagi saya, memutuskan menikah itu tentang memutuskan dengan siapa,
lalu kapan.
Bukan kapan, lalu dengan siapa.
Dengan siapa kamu menyesap kopi kental di tepi jendela sambil menikmati merahnya langit sore.
Dengan siapa kamu menghitung rintik hujan sambil menghirup aroma rumput yang baru dipangkas di halaman depan.
Dengan siapa kamu berbagi selimut hangat kesayanganmu sambil memetakan benda-benda langit yang muncul tiap malam dengan wajah yang tidak pernah sama dan kamu selalu bingung karenanya.
Dangkal ya?
Iya.
Bagi saya, memutuskan menikah itu tentang memutuskan dengan siapa,
lalu kapan.
Bukan kapan, lalu dengan siapa.
Langganan:
Postingan (Atom)