Rabu, 25 Desember 2013

Maaf karena lagi-lagi memberikanmu sekotak kembang gula ketika yang kamu inginkan adalah berteriak bebas di tengah roller coaster atau berdegup kencang di tengah gulungan ombak.
Maaf karena mencintaimu dengan membosankan.
:)

Senin, 12 Agustus 2013

Kadaluarsanya Kamu

I
Kamu memulainya dengan setangkai bunga mawar merah muda. Hanya setangkai, dan kamu tidak pernah tahu betapa penting artinya di hari itu. Bila nyatanya kamu adalah orang yang salah di waktu yang benar pun ia tidak peduli. Yang ia tahu, dari pangkal ubun-ubun sampai ujung kuku-kuku kakinya meneriakimu pahlawan, penyelamat mereka hari itu.

II
Ceritamu malam itu menjadi lembar favoritnya. Entah apa alasanmu tidak memberi tahunya dari dulu. Tapi yang tidak kamu tahu, ia bangga padamu. Sejak saat itu, ia berharap bisa membesarkan beberapa anak yang kuat sepertimu. Dan diam-diam ia berjanji, seberapa sulit pun jadinya hidup denganmu nanti, ia tidak akan meninggalkanmu. Ia ingin sekuat kamu.

III
Ia tahu betul bahwa waktu berputar dan mengubah semua di dalamnya, termasuk mungkin kamu, mungkin juga ia sendiri. Maka disimpannya baik-baik rekam jejak percakapan kalian dari awal, untuk kemudian dibukanya tiap ia merasa kamu terbawa waktu. Dibacanya sebelum tidur sejak tidak lagi kamu ucapkan selamat tidur untuknya. Dibacanya bangun tidur sejak tidak lagi kamu kirimkan selamat pagi untuknya. Ia bahagia dengan menikmati jejakmu.

IV
Kata orang cinta itu ada kadaluarsanya. Kamu menolak. Ia juga. Kemudian kalian menentang tiap-tiap penyebab kadaluarsanya, bersitegang mempertahankan apa yang kalian punya. Kalian bertahan, namun kelelahan. Kemudian mendapati kelegaan tiap kali keluar lingkaran. Kamu merasa lebih hidup tanpanya, ia merasa lebih damai tanpamu. Kalian menyerah. Menyerah untuk hidup yang tampaknya akan lebih bahagia.

Epilog
Tidak tahu denganmu, tapi ia masih meracau mencari kesenangannya yang dulu. Matanya tidak lagi sembab, namun tidak juga tertarik melakukan apapun kecuali tidur. Dua puluh empat jam masih terlalu panjang untuk dilaluinya sendirian tanpamu.

Senin, 05 Agustus 2013

Ironi Untukmu

Kamu mengenalnya beberapa hari, kemudian memutuskan untuk tetap tinggal dengannya seumur hidupmu, hanya karena ia manis dan lucu, menurutmu waktu itu. Kamu lupa bahwa setiap orang memiliki beberapa topeng. Mungkin ia memakai topeng favoritmu minggu itu. Dan hanya minggu itu.

Beberapa bulan kemudian,

Kamu berselisih dengannya beberapa hari, dan memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi seumur hidupmu, hanya karena ia seperti monster yang memata-mataimu sepanjang waktu, pikirmu waktu itu. Kamu lupa bahwa setiap orang memiliki sisi gelap, selain sisi terangnya. Mungkin itu sisi gelapnya yang hanya mampir sejenak. Atau malah jangan-jangan itu sisi terangnya yang biasa kamu lihat namun dengan tidak sengaja kamu pula yang memadamkannya.

Selasa, 16 Juli 2013

"You didn't love her. You just dont want to be alone. Or maybe she was just good for your ego. Or, or maybe she made you feel better about your miserable life, but you didnt love her. Because you dont disturb people who you love"- Grey's Anatomy
It was really "us" :')

Selasa, 04 Juni 2013

Aku, Surat Cinta, dan Kamu dari Masa depan

 1 Februari 2012
Dear Amy,
Jadi inilah surat cinta pertama kita. Bagaimana kalau diawali dengan perkenalan singkat? Aku Jack. Aku jodohmu dari masa depan. Sejak pertama menghirup oksigen di dunia yang sempit ini, aku sudah tahu kalau kita berjodoh. Percayalah.
Ah, mungkin Kau mulai berpikir kalau Aku ini penggemar beratmu. Sejenis maniak begitu, ya? Mungkin ada benarnya, di bagian Aku menggemarimu. Aku menggemari diriku sendiri tepatnya, dan setiap detail yang membangun Aku. Termasuk lah tulang rusukku, Kau.
Baiklah, cukup dulu. Besar harapanku bahwa Kau membacanya tidak dengan tangan yang gemetaran, melainkan dengan lima sentimeter senyum gulamu itu dan beberapa debaran. Oh ya, Aku akan rajin menyuratimu. Mohon jangan keberatan.
Jack, jodoh masa depanmu.

Ini kali keempat kubaca lembaran merah muda yang mampir di kotak surat pagi tadi. Surat ini dibungkus amplop berwarna sama dengan gradasi sedikit lebih tajam. Aroma black rose tergesa-gesa masuk ke saluran napasku saat pertama amplop dibuka. Ia menyemprotkan surat ini dengan parfum yang terasa familiar. Parfumku. Benarkah?
Dibelakang amplop tertulis sebuah alamat. Aku tidak begitu mengenalinya kecuali bagian kota yang kalau tidak salah enam jam dari sini. Tidak terlalu jauh. Akan Kau jemputkah Aku suatu hari nanti, wahai jodoh masa depan?


19 Juli 2012
“Amy? Amy? Ayo, cepat bangun. Kau harus lihat ini”, kudengar suara Mama di sela-sela mimpi fajarku. Mama menyeretku dengan sigap menuju teras depan. Ada yang berbeda dengan bagian depan rumahku hari ini. Semacam terbungkus dengan gelombang merah tua. Aku belum begitu sadar. Namun angin pagi ini dinginnya makin menguliti, dan dengan mencuri-curi, mampir ke indra penciumku mengantar aroma black rose yang familiar. Kesadaranku meningkat.
Mereka adalah segerombolan mawar merah tua. Yang kelopaknya merekah, aromanya semerbak megah. Entah jumlahnya berapa, yang jelas cukup untuk menyelimuti teras, rerumputan, sampai ke tepi pagar. Aku masih terperangah saat Mama mengambil lembaran merah muda tidak jauh dari tempat kami berdiri.
“Selamat ulang tahun, Amy. Semoga senang”.
Mama menatapku lekat-lekat. Wajahku masih datar, kata-kataku masih beku, namun hatiku sudah girang bukan kepalang. Ya, Aku senang. Oh, Jack, berapa banyak mawar di taman kota yang Kau petik?


1 November 2012
Dear Amy,
Hujan semakin gila saja. Rerumputan di depan rumahku tidak pernah kering. Lumut dengan tanpa malu mencumbu lekat kulit pohon, mencoba berbiak dengannya. Bah! Kau tahu, Amy, bahkan aku terpeleset karenanya. Terpeleset dari pohon setinggi hampir tiga meter! Itu benar-benar nyaris. Tidak ada yang menduga Aku bisa kembali sebugar sekarang setelah kejadian itu.
Hey, bagaimana kalau Kau menyuratiku sesekali? Menyuratiku untuk menceritakan lebih banyak tentangmu yang sulit untuk aku cari tahu. Seperti makanan, warna, film, buku, atau apapun yang paling Kau senangi. Aku hanya tidak sabar untuk lebih mengenal jodoh masa depanku. Harap maklum.
Jack, jodoh masa depanmu.

Dua jam yang lalu, aku kegirangan saat pertama mendapati bahwa ia ingin aku membalas suratnya, pada suratnya yang ke-11. Sekarang aku kacau balau, mematung di hadapan beberapa gumpal kertas yang seharusnya sudah menjadi selembar surat cinta balasan. Entahlah, Jack. Aku tidak pernah menulis surat cinta. Padahal aku tidak perlu berpuisi juga kan? Sekedar menceritakan bahwa aku penggemar pie anggur, biru tosca, The Artist, dan apapun yang pernah Kau sebut sebagai bagian dari kesenanganmu.
Pernah makan pie anggur, Jack? Bukankah itu jarang tersedia untuk dijual? Aku bisa membuatkannya untukmu. Mungkin sebagai hadiah ulang tahun. Kapan ulang tahunmu, Jack? Ah, mudah-mudahan belum lewat.


20 Desember 2012
Dear Amy,
Aku kian sekarat. Mungkin akan lebih baik kalau Kau datang menjengukku. Oh ya, Kau belum melewatkan ulang tahunku. Datanglah kerumahku, pada akhir tahun ini, pada ulang tahunku. Ibu akan menjahitkanmu sweater biru tosca. Kalau tidak repot, bawakan kami pie anggur buatanmu itu, ya. Maaf tidak bisa panjang lebar. Senang bisa menyuratimu sepanjang tahun. Tahun ini akan jadi begitu sakral bagi kita di masa depan.
Jack, jodoh masa depanmu.

Aku termenung. Mengingat-ingat kejadian 20 hari yang lalu. Tentang apa yang kulakukan setelah mengarang selembar surat cinta untuk jodoh masa depanku ini. Kukirimkan kah? Tidak. Aku yakin benar, tidak. Surat itu berakhir menggumpal, bergulir bulat-bulat di tempat sampah. Bagaimana Kau bisa tahu isinya, Jack?

***
Pikiranku berkelana sepanjang perjalanan. Melepas angan pada tiap rintik hujan yang mampir di jendela. Ini adalah hari terakhir di tahun pertama aku mendapat surat cinta dari jodoh masa depanku. Aku menyimpan semuanya. Aku turun di sebuah halte setelah lima jam menyusuri jalanan licin, kemudian mulai berjalan dengan langkah panjang pada lorong sempit yang dihimpit pagar hijau dari rumah-rumah di kiri-kanannya . Hujan turun pelan-pelan. Membasahi ubun-ubun, kemudian turun ke kuduk. Ada sekotak pie anggur yang hangat dalam pelukku. Sebisa mungkin aku melindunginya dari bumi yang kotor oleh air kubang dan langit yang kotor oleh awan legam.
 Langkahku berhenti pada sebuah alamat. Pada sebuah rumah sederhana yang dikerubungi pekarangan hijau yang cukup luas. Beberapa pohon tinggi tumbuh membayanginya. Pandanganku berhenti pada salah satu diantaranya, pada yang berdiri rumah pohon di pucuknya. Kapan-kapan kita harus duduk disana, Jack. Menyaksikan mawar dari taman kota atau sekedar mencaci hujan yang berani hadir hanya jika bergerombol.
Pelan-pelan Aku menuju ke pintu depan. Sepatuku meninggalkan jejak kecoklatan pada lantai teras depan yang berwarna kuning muda. Aku memencet bel, mengatur posisi berdiri, menata senyum supaya tetap lima sentimeter. Semenit kemudian, seorang wanita paruh baya berdiri di hadapanku. Rambutnya digulung rapi ke belakang. Kulitnya terlalu pucat dan ada lingkar hitam di kedua kantung matanya.
“Kediaman Jack? Aku Amy, teman penanya”, kataku mengulurkan tangan, masih dengan senyum paling ramah. Wanita itu menyambut tanganku dengan pandangan matanya yang tidak bergerak, menangkap sepasang bola mataku lekat-lekat. “Masuklah, Amy”, kemudian katanya, nada suaranya ramah, walaupun tidak dengan mimik wajahnya.
Aku menghela napas pelan-pelan. Rumah ini terasa  lembab dan pengap, mungkin juga karena langit-langitnya yang rendah. “Aku bawakan pie anggur, buatanku sendiri”, kucoba memulai percakapan. Wanita itu mengambil sekotak pie yang kutawarkan dan menaruhnya di meja, “Terima kasih. Ini luar biasa”, kemudian katanya ramah dan berjalan lebih cepat untuk mendahuluiku, menuntunku pada sebuah ruangan.
Ruangan itu berdinding hitam. Ada kertas dinding bermotif mobil-mobilan membungkus salah satu sisi dindingnya. Tepat di depan kami ada sebuah jendela yang cukup besar. Di bawahnya ada meja yang memuat koleksi robot dan sepeda ontel.
Aku melirik ke sebelahku. Seseorang tampak tertidur pulas disana. Tidur yang sangat pulas dengan mata yang terkunci rapat. Di sekitar sepasang mata itu ada lingkar hitam yang membuatnya tampak sangat tidak sehat. Kulitnya juga kering dan pucat. Entahlah. Ia terlalu tenang untuk sekedar tidur. Kukira ia koma. Ia sangat tua. Mungkin hampir di penghujung usianya Itu membuatnya tampak berkali-kali lebih menderita.
Wanita yang menuntutunku ke ruangan itu kemudian mendekat padanya, pada telinganya. “Bangunlah, Jack. Jodohmu sudah datang”.
Aku terkesiap. Lelaki tua itu mendadak membuka mata, mencoba sekuat tenaga untuk menghela beberapa butir oksigen yang lewat, mengumpulkan energi untuk sekedar menggenggam lemah jemari tangan kananku. "Ayo pulang, Amy", suaranya serak.
Seketika jemariku mengeriput. Kemudian tanganku, kemudian sekujur tubuhku. Kami pulang ke masa depan.

Sabtu, 01 Juni 2013

Aku Perempuan


Aku adalah malam dengan sejuta bintang karena Aku perempuan
Aku adalah yang hangat walau bermandikan hujan karena Aku perempuan
Aku bukan daun  yang gugur terhempas ke tanah karena Aku perempuan
(Hus, tak cocoklah perempuan berpuisi! Balik ke dapur sana, tanak nasi!)
Aku lahir  untuk merayu
Rayu yang dengan sedikit racun dan banyak candu
Keberatan?
Aku bukan perempuan dulu yang rambutnya rapi terkepang
Tapi juga bukan jalang yang kerjanya melenggang
Sekedar jengah terkungkung di dapur
Jerang kopi, tumis sawi, goreng cumi
Keberatan?
(Bah, berpuisi lagi? Balik ke dapur sana, tanak nasi!)
Aku tidak bermimpi tinggi-tinggi
Cukuplah punya uang sepundi untuk
Beli pupur, beli celak, beli pemerah pipi
Becantik berias  sambil semprot wewangian sana-sini
Supaya tak berat Kau belikan kalung emas, gelang emas, giwang emas
Jika kupinta dengan rengek nanti
Keberatan?
(Hei! Kemanalah otakmu ini? Balik ke dapur sana, tanak na-si!)
Aku adalah malam dengan sejuta bintang karena Aku perempuan
Aku adalah yang hangat walau bermandikan hujan karena Aku perempuan
Aku bukan daun  yang gugur terhempas ke tanah karena Aku perempuan
Aku menanak nasi di pagi hari, di siang hari, di malam hari karena
Aku perempuan.

Selasa, 08 Januari 2013

Hakikat Si Kupu-Kupu


Kau bukan ulat bulu sembarangan. Entah darimana teori itu, tiba-tiba yang Aku tahu, Aku merasa tahu. Saat Kau jadi kupu-kupu, akan ada sepotong senja yang kian menjingga di sayap lebarmu. Oleh karenanya kubisikkan doa yang syahdu untukmu Wahai Si Ulat Bulu, pada tiap bintang fajar yang timbul, sampai ia menghilang di pagi-paginya. Harapku agar cepat Kau jadi kupu-kupu, agar mudah Kau terbang ke kelopakku yang sungguh merona katamu (dulu). Ah, dasar Kau perayu. Atau jangan-jangan hanya Aku yang mudah dimabuk karena tak biasa dirayu?

Harap yang kelewat besar ini rupanya membuatku lupa akan hakikatnya Si Kupu-Kupu. Pada hakikatnya yang hidup untuk mencari madu, dan oleh karena itulah ia terbiasa memadu. Pada hakikatnya yang terbiasa terbang dari satu bunga ke bunga yang lain tanpa peduli apa yang ditinggalkannya dalam jejak pada tiap kelopak yang pernah dihampirinya itu.

Bagaimana jika kuminta kembalikan lagi maduku? Bagaimana jika kudoakan agar kembali lagi Kau jadi Si Ulat Bulu?

Duh, masih tetap dangkal benar pikiranku ini. Padahal paling-paling besok sudah layu terkubur, gugur, jatuh ke lumpur, dirayu angin,diserbu dingin. Mati.

Ya sudah.
Wahai Kupu-kupu, pada kejora malam ini, kutitipkan salam untukmu. Isinya masih seperti yang sering Kau dengar dulu, tentang pujaku atas pesonamu.


Sabtu, 05 Januari 2013

Tabu

 Tabu
 

          “Ini sudah tahun kelima. Pendidikanmu belum juga selesai?”
          Lagi-lagi kujawab dengan senyum. Aku tahu betul kau berharap lebih. “Ini tahun terakhir”, jawabku masih berusaha meyakinkanmu sekenanya.
          “Sudah itu?”
          “Pengabdian dulu setahun”
          “Sudah itu?”
          “Akan mulai ada tabungan untuk masa depanmu”
          “Baiklah, Aku menunggu”, jawabmu. Tak lupa kau tambahkan selengkung senyum yang sempurna untuk mengakhiri percakapan malam itu. Aku tahu betul bagaimana kau dan orang tuamu mulai getir dengan umur kita yang sudah tidak muda lagi. Apalagi di desamu yang penuh orang kolot itu. Kau pasti dijuluki perawan tua, ya? Sabarlah, Aina. Sebentar lagi aku pasti banyak uang.

***

          “Jadi bagaimana, Dok?”, Si Ibu kembali mendesakku.
          Lidahku mengelu, mengerang minta waktu. Bergantian kutatap dua wanita yang duduk di seberang meja. Ini kali pertama mereka datang, meminta tolong dengan menghamba atas masalah yang mereka bawa dari kota. Waktu 2 jam lebih yang mereka tempuh untuk duduk di praktik ini tidak membuat Si Ibu kehabisan energi untuk mengumbar cemasnya.  Si Anak Gadis, yang berseragam putih abu-abu, belum bicara sepatah katapun. Wajahnya kaku, mengatakan bahwa ia berusaha keras membungkam nalurinya yang berontak pada logika yang ditawarkan Si Ibu. Kasihan betul.
         “Beri Saya waktu, Bu”.
         Si Ibu mendengus kesal, Si Anak Gadis menghela napas, Aku masih bungkam. Naluriku dicabik-cabik logika saat otakku yang menghitung lembar-lembar Rupiah terperangkap bayang-bayang Aina. Aina yang masih di desa, menunggu untuk dilamar.

***

          “Masalahnya, ini baru minggu ketujuh praktikmu dibuka, di kota kecil yang sedikit orang kayanya. Dua puluh juta terlalu banyak untuk itu, Bara”, katamu tanpa berusaha menyembunyikan rona curigamu.
          “Aku mengaborsi, Aina. Dua puluh juta tidak terlalu banyak untuk itu”
Kau terkesiap, membungkam mulutmu rapat-rapat. Matamu nanar, dagumu bergetar. Seketika kudengar kuping kanan dan kuping kiriku saling caci, logika dan naluri saling tuduh siapa yang sebenarnya pembunuh.
          “Aina, dengar. Kita menyelamatkan harga diri dua keluarga, masa depan Si Gadis, dan tentu saja masa depan kita sendiri. Ini bukan dosa besar. Yang kau rasa itu sekadar tabu. Itu akan hilang kurang dari se-”
Kau tutup telinga dan mulutmu rapat-rapat waktu itu, juga harapmu untukku. Aku tahu, karena yang kudengar senin depan nanti akad nikahmu, yang bukan denganku. Selamat.
 

Teruntuk Kamu yang berulang tahun

Teruntuk Kamu yang berulang tahun,




Saya ucapkan selamat. Walaupun mungkin ucapan ini tidak sampai ke Kamu, seperti tahun kemarin. Waktu itu, pesan singkat Saya tidak berhasil dikirim, soalnya handphonemu itu tidak aktif lama sekali. Tapi pesannya masih saya simpan di draft sampai sekarang kok, untuk sekedar kamu tahu saja. Isinya tentang doa dan harapan-harapan Saya untuk Kamu, seperti yang juga akan Saya tulis pada surat ini.

Kamu yang berulang tahun, Saya doakan semoga Kamu senantiasa berbahagia. Saya bingung mendefinisikan kebahagiaan Kamu sekarang ini. Wajar sih, mendapat kabarmu saja jarang. Pokoknya apa pun hal yang bisa membuat Kamu berbahagia itu, Saya doakan semuanya tercapai. Aamiin.

Kamu yang berulang  tahun, Saya doakan semoga Kamu sehat-sehat saja. Juga Emak-Bapakmu, Kakak-kakakmu, dan semua orang yang terlibat untuk mewujudkan kebahagiaanmu. Kamu masih darah tinggi? Mudah-mudahan tidak lagi. Jangan merokok seperti Papa-Papa kita, ya. Semoga Kamu pintar jaga diri. Aamiin.

Kamu yang berulang tahun, Saya doakan semoga rezeki kamu banyak. Lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, sampai Kamu bisa memanjakan keluargamu, sampai Kamu bisa membanggakan keluargamu. Ah, tapi sekarang pun mereka pasti sudah bangga. Saya yakin. Saya doakan juga semoga kalau Kamu sudah banyak uang nanti, Kamu tidak berat qurban tiap tahun, seperti yang Papa sampaikan pada saya. Mudah-mudahan, ya. Aamiin.

Kamu yang berulang tahun, Saya doakan semoga tidak lama lagi Kamu dapat jodoh yang terbaik buatmu. Yang cukup satu tapi siap menemanimu sampai Kamu tidak bisa ditemani lagi. Semoga jodohmu orang baik, dari keluarga baik-baik, solehah, cantik, pintar, dan rajin. Besar harapan Saya bahwa jodohmu itu terlihat mahal, tidak seperti ‘adik-adik’ Kamu yang gayanya mirip SPG itu. Astaga. Tapi bagaimana pun, pokoknya Saya doakan jodohmu nanti bisa membahagiakanmu lahir batin. Aamiin.

Nah, itu saja doa Saya untuk Kamu. Mudah-mudahan di dengar Allah, dan tidak berat Ia mengabulkannya. Aamiin aamiin aamiin.

Kamu yang berulang tahun,
Sekali lagi saya ucapkan, selamat ulang tahun.





Dari Saya yang sedang tidak berulang tahun.

Ibuku, Tipikal Perempuan Zaman Dulu

 Ibuku, Tipikal Perempuan Zaman Dulu


Ibuku, tipikal perempuan zaman dulu.
Mimpi timang anak, sejak masih kanak-kanak.
Ibuku, tipikal perempuan zaman dulu.
            Bangga berpinggul besar, supaya bersalin normal tanpa sesar.

Ibuku, tipikal perempuan zaman dulu.
Enam bulan bunting, kemana-mana bawa gunting.

Ibuku, tipikal perempuan zaman dulu.
Aku lahir, sukarela melepas karir.

Ibuku, tipikal perempuan zaman dulu.
      Periksa PR dengan seksama, jangan sampai di rapor ada angka lima.

Ibuku, tipikal perempuan zaman dulu.
Pagi siapkan bekal, sore berdiri di teras tunggu Aku pulang tanpa kenal pegal.

Ibuku, tipikal perempuan zaman dulu.
        Dipastikannya aku tumbuh berbudaya, supaya dapat laki kaya raya.

                 Apa kabar Ibumu yang tipikal perempuan zaman kini?
                    Ada dimasakkannya Kau makanan enak hari ini?
           
 

Belum Layak

Belum Layak


           Lebih dari belasan kali kupikir ulang untung ruginya aku berada disini. Namun tiap kali aku berpikir tentang ruginya, Malaikat selalu membacakan surat-surat dari Para Bayi yang sudah lebih dulu berangkat ke alam rahim. Hampir seluruh kalimat dalam surat-surat mereka dilengkapi keterangan subjek yang merujuk pada sifat gembira. Subjek bergembira. Para Bayi bergembira.

… Pernah suatu hari, aku bosan sekali. Kutendang-tendang ruang sempit di alam rahim sekuat tenaga sambil berteriak, “Ibu, Aku mau keluar!”. Lalu apa reaksi Ibu? Ia membelai perutnya dengan lembut, dengan sangat lembut, sampai geli-geli yang kurasa. Kau harus coba sensasi geli itu. Itulah cara kita bermain dengan ibu – Bayi Ny. X, 5 bulan dalam kandungan.

… Ibuku alimnya minta ampun. Seharian penuh diperdengarkannya Aku ayat-ayat kitab suci, dengan suaranya sendiri yang merdu benar itu. Entah berapa kali sehari Ia bersujud. Tiap-tiap sujudnya itu, ada suara yang menggema dari jantungnya, menggema dengan nada khusyuk. Isinya hampir selalu sama, semoga anaknya sehat, kuat, cerdas, dan beragama. Ah, kalau Aku jadi lahir nanti, haruslah Aku jadi Ulama, supaya Ibu bangga – Bayi Ny. Y, 4 bulan dalam kandungan.

… Tidak tentu lagi Aku ini makan berapa kali sehari. Sudah masuk nasi, daging,ikan, sayur ini itu, air kelapa, kacang hijau, dan semuanya yang aku suka. Awalnya, Aku cuma coba-coba. Kusampaikan pada jantung Ibu, “Bu, Aku mau sate ayam”, dengan bisikan yang sangat pelan. Entah apa itu sate ayam. Namanya baru kudengar dari Si Usus. Itu favoritnya. Tidak berapa lama kemudian, sate ayam masuk. Luar biasa lezat. Terus kuulangi cara yang sama untuk makanan lain. Si Usus kegirangan, “Terima kasih sudah membuat Ibu mengidam”, katanya – Bayi Ny. Z, 3 bulan dalam kandungan.

           Surat-surat semacam itu terus dibacakan untukku. Darinya, tersusun mimpi yang megah tentang Ibu. Ibuku sendiri. Aku harus punya Ibu sendiri, menjalin ikatan dengannya, agar bisa segembira bayi-bayi yang telah lebih dulu ke alam rahim itu, batinku, tujuh bulan yang lalu.
           Namun sepertinya ada rencana lain untukku. Kemarin sore, saat aku sedang menendang-nendang sambil berharap Ibu menggelitikiku, muncul monster mengerikan di alam rahim. Di capitnya Aku di sana sini, di pisah-pisahkannya kepala dengan leher, leher dengan badan, badan dengan tangan, badan dengan kaki.
           Ada apa ini? Kemana Ibu? Kenapa Ia tidak menolongku? Aku hanya bisa berdoa pelan kepada Tuhan, semoga monster ini tidak mencederai Ibu sedikit pun. Semoga suatu saat nanti, jika aku sudah cukup layak, Tuhan memberiku kesempatan untuk tinggal di alam rahim lebih lama lagi. Alam rahim Ibuku. Ibuku. Ibu yang sekarang ini sangat kucintai dan yang telah kubangun banyak mimpi dengannya.

*

Hey, Bayi. Maafkan Aku. Aku belum siap menjadi Ibu yang Kau agung-agungkan itu. Aku ini kotor. Carilah Ibu baru.

Tameng

Tameng


           “Aku tidak akan bisa menyaingi Si Angsa , Ma”.
           “Tentu saja Kau bisa. Sudah kau temukan gaun yang cocok?”
           “Ada. Warnanya kuning telur”.
           “Kenapa tidak Kau beli?”
           “Harganya, Ma. Hampir tiga juta”, suaraku memelan, menunggu reaksinya.
           “Ya, Tuhan. Sudah. Belilah pulang ini. Jangan sampai Kau didahului Si Angsa”.
           Mama beranjak dari kursi makan, menuju kamar. Ia pasti mengambil kartu kreditnya untuk dipindahkan ke dompetku. Kadang aku resah. Bagaimana bisa hidup kami tidak sedikit pun berubah sejak Papaku yang kaya raya pergi tak berkabar? Tetap ada gaun mahal, mobil mewah, kursus yang beragam, les privat dengan guru terbaik, dan seterusnya. Itu cukup membuatku berbaur dengan Para Angsa, walaupun aku tahu benar bahwa sebenarnya aku ini sekedar Si Itik yang Terpelihara.
           Pernah suatu hari aku kehilangan dompet. Itu berarti aku kehilangan Rp2.000.000 seharga dompetku sekaligus Rp500.000 di dalamnya. Matilah aku. Mama pasti mengamuk. Benar saja. Mama membunuh waktu sekitar sepuluh jam dengan nasihat yang itu-itu saja, dengan model kalimat yang juga itu-itu saja. Itu terjadi dua hari sebelum ulang tahunku. Sial. Pasti tidak ada kado tahun ini, tebakku. Ternyata aku meleset. Pagi-pagi sekali, mama membangunkanku di hari ulang tahun, kemudian menarikku menuju ruang tengah. “Selamat ulang tahun”, serunya. Ia berdiri di sebelah piano mewah yang tampak elegan. Padahal aku belum mahir sama sekali.
           Jika Kau memintaku menggambarkan Mama, maka yang keluar hanya akan puja-puji. Seperti ia cantik, elegan, pintar, kuat, efisien, loyal, penuh motivasi, dan seterusnya sampai Kau bosan. Sampai dengki memakan hatimu. Sampai tanya menjalar di otakmu, kenapa bukan ibumu yang seperti itu?

***

           Panas menjalar ke kudukku dengan tergesa-gesa. Aku menutup jendela di sisi kiri. Sial, udara malah jadi pengap. Jalanan macet sudah hampir setengah jam. Beberapa orang turun dari bis dan memilih berjalan. Kuputuskan mengikuti jejak mereka.
           Sampai di depan kerumunan kendaraan, kulihat sebuah sosok yang familiar sedang mengamuk di tengah jalan. Rambut kusut, mata nanar, badan kumal, tawa liar. Berorasi menghambur cemas sambil menebar puluhan lembar kertas. Aku memeriksa beberapa diantaranya. Surat tagihan. Sepuluh juta, lima puluh juta, seratus juta..
          Sekali lagi kutatap wanita itu dengan seksama.
          Ma?

Aku(spasi)Kamu

 Aku(spasi)Kamu


akumenerobosspasisupayatidakadalagiAku(spasi)Kamu
yangkianmengAku(spasi)Kamu
Sejakhujanderassenjaitu

(1)  Kamu
Mencaci hujan senja kemarin, dengan penuh
Serapah
Yang persis sama dengan
Serapah
Yang Kamu seruakkan kepada terik pagi-paginya

(2) Aku
Mengaduk kopi hitam pelan-pelan, menatapmu sambil melepas
Puja
Agar tenang dirimu dan lagi-lagi
Puja
Agar lupa dirimu pada caci maki yang terlanjur bertebaran

(3) Hujan Senja itu
Datang terlalu gaduh. Menitipkan terlalu banyak gemuruh.
Ribut di telinga. Kacau balau di batang otak.
Hela napas dan debar jantung saling bunuh.
Yang Aku sampaikan puja, yang Kamu translasikan serapah.
Hujan deras senja itu, Awalnya
Aku(spasi)Kamu, akhirnya

(4) Rindu
Yang mengenyangkan perut saat tiba waktu sarapan begitu juga makan siang sampai makan malam,
dan yang membelalakkan mata pada malam sampai kembali fajar,
dan yang mengubah tiap irama ¼ menjadi kidung maha lambat.
Setelah hujan deras senja itu,
Rindu tumbuh subur, Aku layu terkubur,
Kamu?

Makan Malam yang Ganjil

 Makan Malam yang Ganjil


           Ada yang ganjil pada makan malam hari ini. Pada sup kental merah tua dan kentang goreng amis yang disajikan bulat-bulat. Mama menunggu di seberang meja dengan binar mata lebih dari biasa.
          “Selamat ulang tahun pernikahan yang pertama, Pa”, katanya memanja. Laki-laki di depannya tersenyum kecut. Mukanya merah padam. Muak.
         “Aku membuatnya seharian ini”, kata Mama sambil melirik pada kami.
         “Kenapa ada pisau daging di atas meja?”
         “Hidangan ini sungguh tidak biasa. Sup itu, yang kental merah tua, ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu seperti resep rahasia”
         “Kenapa ada pisau daging di atas meja?”
         “Aku mendapatkan resep itu dari tetangga sebelah. Pagi ini me-”
         “Kenapa ada pisau daging di atas meja?”
         “Oh ya, kenapa, Pa?”
         “Pisau daging. Pi-Sau. Kenapa?”
         “Oh, itu untuk mengiris apel. Hidangan penutup nanti”
         “Mana apelnya?”. Kening Papa mengkerut, bingung pada apa yang Mama tunjuk.
         “Itu. Di hadapanmu”
         “Tidak ada apel disana. Kamu berbohong lagi. Kalian berbohong lagi”. Papa melirik pada kami, dengan matanya yang tampak seperti bongkah es. Dingin. Siap menghujam kami.
         “Itu apelnya. Di hadapanmu.”
         “Cukup!”
         Papa berdiri. Mukanya merah padam. Jijik. Dibalikkannya mangkuk sup sampai isinya yang kental merah tua itu menghambur di meja makan. Pelan-pelan menggerayang, saling dorong, sampai terjatuh ke gaun Mama.
         Mama berdiri. Mukanya putih pucat. Ketakutan. Dilemparkannya kentang amis di depannya itu bulat-bulat ke arah Papa. Cepat-cepat mengudara, saling susul, sampai hancur lebur sampai mendarat di wajah Papa. Kami menikmati pertunjukkan malam ini sambil sesekali tertawa genit.
         “Diam!”, Papa menghardik Kami, sambil melempar pisau pada apel di hadapannya.
        “Nah! Itu, Lihat! Kau membunuh apelnya! Kau melihat apelnya!”
        “Bukan, Sayang. Bukan apel. Itu urat lehermu”
Mama menatap pisau daging di atas meja. Berkilat menyilaukan sambil terbahak. Pada gagangnya terbayang-bayang urat leher Papa.
        “Bukan, Pa. Itu punyamu. Itu urat lehermu”
        Ada yang ganjil pada makan malam hari ini. Pada sup kental merah tua dan kentang goreng amis yang disajikan bulat-bulat. Mama dan Papa saling bunuh malam ini. Entah apa yang menghipnotis mereka. Tapi mungkin juga kami. Boneka porcelain di ruang makan yang sudah lama tidak menonton komedi.
 

Proyek Surat Cinta

Proyek Surat Cinta


Ada yang mengganjal pikirku dari Desember ini. Kali ini bukan tentang fiksi. Ini tentang Kamu. Ya, Kamu. Belum pahamkah?

Begini, kujelaskan. Tanggal 13 sebelas bulan yang lalu, aku bangun lebih pagi untuk memutar kaset dan menyiapkan kotak yang kubungkus biru muda. Kemudian kubangunkan si sulung dari mimpinya dengan sukacita dan beberapa harap. Tanggal 14 sepuluh bulan yang lalu, aku bangun lebih pagi untuk memutar sebuah kaset dan menyiapkan kotak yang kubungkus pita warna merah tua. Kemudian kubangunkan Mama dari mimpinya dengan sukacita dan beberapa harap. Tanggal 18 lima bulan yang lalu, aku bangun lebih pagi untuk memutar kaset dan menyiapkan kotak yang kubungkus warna emas. Kemudian kubangunkan Papa dari mimpinya dengan sukacita dan beberapa harap.

Sudah paham?

Aku merasa harus bangun lebih pagi akhir bulan depan. Untukmu. Selanjutnya? Entahlah. Aku berencana membuatkanmu surat cinta. Surat cinta dengan formulasi diksi yang bisa menggantikan lagu, bingkisan, dan sepundi harap. Tapi sejauh ini, maaf, hanya ada surat cinta yang kosong untukmu. Tanpa kalimat, tanpa kata, tanpa tanda baca, kecuali tanda tanya.

Jadi kusemai harap di awal bulan depan sebagai kesudahan proyek surat cintaku. Semoga surat cinta ini cepat rampung dan bisa sampai padamu tepat waktu. Kalau tidak lewat Pak Pos, ya cukup lewat mimpimu. Harap maklum, aku ini pemalu.

Pelangi dalam Abu-abu

 Pelangi dalam Abu-abu



          Kami bertemu tiga hari yang lalu di seberang toko roti yang kala itu dikerubungi mendung, semendung sore ini. Kelabu, hari itu. Tapi tidak dengannya. Gaun jingga berpotongan sederhana yang ia pakai senja itu membuat semua yang ada di sekitar kami terlihat monokrom. Angin senja mengirimkan auranya ke saraf sensorikku, yang kemudian ditranslasikan oleh otak sebagai kata “me-nga-gum-kan”.

          Dengan memilintir otak, Aku memulai percakapan kami yang pertama senja itu. “Sedang menunggu?”, kataku kalau tidak salah. “Tidak. Aku sedang kabur”, jawabnya. Nah, yang itu Aku ingat betul, karena semua kalimatnya sudah dilaminating disini, di memoriku. Kemudian Aku menanggapinya dengan tawa. Lalu kami berbincang tentang cuaca, tentang tukang roti di seberang, dan tentangnya. Jadi namanya Pelangi. Katanya, hari itu bukan hari terbaiknya. Aku melontarkan beberapa nasihat. Ia menanggapinya dengan senyum gulanya itu dan mengakhiri percakapan kami dengan, “Kau menyenangkan. Aku harap kita bisa bertemu lagi”.

          Dua hari yang lalu, Kami bertemu lagi. Aku menunggunya dari pagi-pagi sekali di seberang toko roti. Ia menghampiriku saat senja yang hampir malam. Sekali lagi ia mengaku itu bukan hari terbaiknya. Kutawarkan lelucon untuk keluhnya. Ia tertawa. Kami bercanda. Kemudian Aku mengiringnya kembali bercerita tentang dirinya. Katanya, ia seorang penulis. Novel yang sedang ia buat saat ini bercerita tentang rencana pembunuhan seorang istri terhadap suami dan bayi mungilnya. Saat kutanya apa motif Si Istri, “Ia hanya ingin”, jawabnya. Kami tertawa lagi.

          Dua puluh empat jam yang lalu, aku menantinya dengan rindu yang gaduh. Beberapa kali kuimajinasikan ia datang. Tapi hari itu hanya berakhir dengan tanya. Kemana?

          Aku mengaduk kopi kental di depanku, kemudian menghirupnya pelan-pelan, memandang jauh ke langit mendung sore ini sambil menarik napas panjang, mencoba tenang sebelum akhirnya kembali melirik surat kabar di meja. Berita hari ini tidak baik. Di halaman paling depan saja sudah tertera berita kriminal, tentang pembunuhan oleh seorang istri kepada suami dan anaknya yang masih umur seminggu. Menjijikkan.

          Apalagi melihat potretnya terjebak disana.

          Ada Pelangiku di dalam koran abu-abu hari ini, pada kolom berita kriminal yang sungguh kelabu. Sekali lagi aku tertangkap pesonanya. Dosakah?
 

Anak di Kamar Mama

 Anak di Kamar Mama


          Masih duduk di pojok kamar, diantara buku-buku tua dan lapisan debu yang kian menebal. Masih menghitung jumlah ikan di seprai. Kemarin berhenti di 1202. Berarti mulai dari 1203, 1204, 1205, 1206, 120..

ah, lagi-lagi lupa angka apa sesudah enam.

Mama? Mana Mama? Angka apa sesudah enam, Ma?

          Mama tak bergeming. Aku memeriksa matanya pelan-pelan. Tertutup. Mama tidur, setelah baru tujuh menit pulang ke kamar.

Jadi angka apa sesudah enam?

          Kurasakan otak ini mulai melilit, laci memori berderit-derit, mata panas, dada sesak, napas pendek-pendek. Pasti harusnya saat ini aku sedang menangis, kalau saja punya lakrimal. Itu loh, kelenjar air mata. Kata Mama, nanti kalau dia sudah jadi dokter bedah, akan ada sepasang lakrimal yang diimplannya di mata ini. Operasi kecil-kecilan saja. Kalau perlu cukup disini, di kamar, supaya aku lebih tenang. Ini bulan terakhir Mama jadi dokter muda. Aku pernah berpikir, harusnya setelah dokter muda, ya jadi dokter tua. Tapi ternyata jadi dokter sa..

Ah, ya! Tujuh! Tujuh! Tujuh sesudah enam, enam sebelum tujuh!

          Senyum porcelainku melebar setengah milimeter. Kelihatannya bagaimana?

          Baiklah, cukup dulu berhitung hari ini. Mudah-mudahan besok seprai belum diganti. Aku, dan dua temanku, mendoakan Mama tidur nyenyak malam ini supaya segar kembali besok pagi. Kami boneka di kamar Mama, menitipkan harap-harap pada tiap pucuk angin yang lewat untuk diberangkatkan masuk ke mimpi Mama malam ini. Sudah berapa tahun tidak memimpikan kami, Ma? 3, 4, 5, 6, atau … Ah, sudahlah.

Fiksi dari Masa Kecil

Fiksi dari Masa Kecil


          Apa yang berbeda dari masa sekarang dengan masa kecilku? Tetap ada boneka, kartu, congklak, bekel, dan permainan yang sejenisnya itu. Beberapa permainan seperti bepean atau benteng memang sudah tidak ada lagi sih. Eh iya, main Ayah-Bundaannya juga tidak lagi. Diantar jemput? Masih. Disuapi? Kadang-kadang. Dimandikan? Nah, itu juga tidak lagi. Yang jelas berbeda dari masa kecil dulu adalah sekarang aku tidak akan pernah lagi bertemu dengan pekerjaan rumah yang bisa selesai dalam sepuluh menit.

          Oh ya, ada lagi. Mengenai jam tidurku. Waktu kecil aku bisa tidur hanya tiga jam sehari tanpa cemas akan tumbuh jerawat yang nyeri esok harinya. Jadi, dulu di kamarku dipasang lampu tidur warna hijau muda. Sekitar tengah malam, kira-kira TV di ruang tengah sudah mati, aku akan bangun dan mulai menulis. Pertama aku akan menulis jurnalku, menceritakan secara rinci kejadian-kejadian pada setiap harinya, lalu dilanjutkan dengan menulis beberapa khayalanku dalam sebuah plot yang tertata. Begitu setiap malamnya. Aku larut dalam fiksi sampai Venus hampir pulang. Aku besar dalam fiksi.

Hm, aku suka bercerita. Aku punya banyak cerita. Aku jadi ingin bercerita sekarang.

          Suatu sore, aku menunggu di pelataran sekolah yang letaknya sekitar 1300 Km dari sini. Bisa menebak dimana itu? Waktu itu hujan deras. Teman-temanku pulang dengan riang bermandikan hujan, berkejar-kejaran tanpa peduli petir yang terus menyambar. Aku sedang tidak sehat badan hari itu. Jadi aku minta Papa menjemput. Tidak tahu kenapa, hari itu Papa lama sekali. Aku mulai resah. Kuambil buku cetak Matematika dari tas dan mencoba sibuk dengan beberapa soal.
          Tiba-tiba dua orang anak kecil datang. Mereka tampak luar biasa, secara fisik maksudku. Yang perempuan rambutnya ikal dikuncir satu, yang laki-laki rambutnya sedikit lebih lurus dan berponi. Dua-duanya putih bersih, dengan pipi gempal dan merona, mata lebar berpendar, dan senyum merekah.
          “Aku Ridho”
          “Aku Sherly”
          “Kami adalah anak Mama dari masa depan”
          Aku diam. Kedua anak itu saling melirik, lalu tertawa kecil. Yang perempuan memegang tangan kananku.
          “Mama, berjanjilah, Mama nanti akan jadi dokter hewan supaya kami tetap bisa bermain dengan hewan-hewan lucu saat kami kembali ke masa depan. Mama harus merawat banyak hewan dan berusaha keras supaya mereka tidak mati. Aku mau di kota kita nanti tetap banyak burung berkicau di pagi hari dan kupu-kupu berwarna mampir di jendela pada siang hari. Mungkinkah kunang-kunang bisa tinggal di tengah kota pada malam hari, Ma? Seperti yang sering kita lihat di danau dekat rumah Nenek”.
           “Atau paling tidak jadilah penulis cerita anak, Ma. Seperti Tuan Anderson. Supaya bukan cuma kami yang tahu tentang Putri Lobak, Raja Petruk, Pak Pandir, dan Si Mata Empat. Supaya setiap malam tetap banyak dongeng pengantar tidur yang diperdengarkan  waktu kami kembali ke masa depan. Bagaimana, Ma?”
           Aku diam. Aku mencerna mereka dengan lambat, memilah-milah ekspresi dengan sangat lambat, dan menentukan respon dengan amat sangat lambat.
           Kedua anak tadi kembali saling lirik, lalu tertawa kecil. Yang perempuan melepaskan genggamannya dari tangan kananku, dengan cepat mengambil sesuatu dari kantong baju yang laki-laki yang perkiraanku itu sebungkus permen, lalu berlari membaur dengan hujan sore itu. Yang laki-laki sontak mengejarnya sambil tertawa riang. Mereka membaur dalam tirai hujan dan tawa riang. Aku masih diam sambil sesekali melirik rok merahku untuk sekedar memastikan bahwa hari itu aku memang masih sekolah dasar.

Ps: Untuk Ridho dan Sherly, mudah-mudahan kalian tidak kecewa kalau nanti mendapati Mama masa depan kalian bukan dokter hewan atau penulis cerita anak. Mudah-mudahan walapupun Mama masa depan kalian akuntan, insinyur, atau dokter bedah, ia tetap bisa mendongeng. Mudah-mudahan Papa masa depan kalian juga tidak keberatan untuk memelihara banyak hewan di rumah. Jadi, mudah-mudahan di masa depan nanti tetap banyak hewan lucu yang bisa dijadikan teman main dan dongeng pengantar tidur yang diperdengarkan. Aamiin, mudah-mudahan, ya.
 

Harusnya Begitu

                Harusnya Begitu            


            Harusnya aku melepasmu, dengan sedikit marah dan banyak kecewa. Tapi pasti kau tahu benar bagaimana bisa aku tanpamu. Tidak ada salahmu yang terlalu mutlak di mataku. Walaupun beberapa suara kian sibuk mencaci tingkahmu, sepenuhnya aku memilih untuk tetap membelamu. Pembelaan yang menuntutku untuk terus berpura-pura biasa dan tanpa tanda tanya dengan semua ulahmu itu.

            Harusnya aku melepasmu karena semakin aku mencoba berdamai dengan waktu, semakin ia coba membunuh. Ada cemas yang menggebu untuk setiap detak jam yang tertawa, padahal sebenarnya itu rindu. Ada sedih yang tak terbayangkan untuk tiap kabarmu yang mencengangkan, padahal itu candu. 

            Harusnya aku melepasmu. Harusnya begitu. Kemudian belajar untuk kembali sebahagia dulu dengan harapan-harapan yang baru. Namun tanpa kamu, aku hanya abu-abu. Walaupun sudah kuhapus jejakmu itu berulang kali, tapi tetap saja seribu persimpangan di depan kembali menuju ke kamu. 

           Sudah terlalu gaduh disini. Bagaimana cara menyampaikannya padamu?

           Begini saja, kalau suatu hari nanti kamu temukan beberapa lentera yang berbaris menuju rumahmu, itu hanya Aku yang berusaha untuk tidak tersesat. Mohon jangan keberatan.
 

Jarak - Rindu - Demikian

Jarak - Rindu - Demikian


Episode Satu: Jarak

            “1.341 jam lagi”.
            “Tidurlah. Mungkin 20.000 Km ini akan lebur dalam mimpi”.
           Ah, dalam mimpi lagi. Rasanya baru dua jam yang lalu aku memimpikanmu, datang dengan lima tangkai mawar putih dan sepucuk surat cinta. Aku ingat baris terakhirnya. Tentang bagaimana Kamu yakin bahwa ini cinta karena ada sepucuk rindu pada tiap-tiap jengkal yang lahir diantara Kamu dan Aku. Ada yang bilang bahwa apa yang masuk ke dalam mimpi kita itu sebenarnya adalah keinginan kita sendiri. Rasanya benar. Surat cinta itu mungkin sebenarnya dari Aku pada Kamu bukan dari Kamu pada Aku.
Kamu,
           Malam ini Aku menulis sepucuk surat cinta untukmu. Tentang Aku, Kamu, dan jarak yang yang terus minta dimaklumi. Lelahkah?

                                                                                     *

Episode Dua: Rindu

                “Jadi 1.568 jam lagi?”
                “Maaf. Titik temu ini bukan Aku yang atur”.
                Aku mengaduk kopi yang kian gelap di hadapanku. Ada sebentuk wajahmu pada buih-buihnya, pada ampasnya, pada setiap tetesnya yang mengental. Ah, aku tahu. Ini yang namanya rindu. Bisa matikah aku jika rindu itu terus kuhirup? Entahlah. Merindumu, Aku candu.
                Kamu,
                Malam ini Kubuat secangkir kopi lagi sebelum tidur. Ada kemelut yang lepas pada tiap tetes yang aku hirup. Sampaikah?

                                                                                     *

Episode tiga: Demikian

                “Demikian Aku mencintaimu. Dengan membunuh jarak yang terus minta maklum dan rindu yang kian gaduh”.
                “Terima kasih. Namun Kamu pula yang paling tahu, tidak ada yang dapat kujanjikan selain jarak dan rindu itu. Demikianlah”.
                “Demikianlah apa?”
                Kamu diam. Aku menunggu dalam diam. Kita diam. Jarak tertawa. Rindu terbahak. Lelah dan Kemelut lepas bebas.
               

Episode Baru

Episode Baru


Umurnya sekitar 16 tahun. Lumayan manis, putih, rambut ikal sepinggang, matanya bulat berpendar. Ada yang berbeda padanya hari ini. Oh, aku tahu! Pakaiannya, maksudku cara berpakaiannya. Biasanya gadis ini memakai setelan yang konservatif, dengan warna yang terkesan monokrom. Hari ini, pantulan warna jingga terang dari celana kainnya di cermin cukup mengagetkanku.

Apa akan ada ia yang baru lagi?

Dua bulan yang lalu, sebelum gaya konservatif itu, aku mengenalnya sebagai gadis berambut lurus dengan poni yang jatuh hampir menutup mata dan membawa kamera kemana-mana. Ya, ia tertarik dengan fotografi. Tumpukan foto di sudut meja rias itu jejaknya. Kalau kau periksa lagi, kau akan mendapati sebuah wajah yang sama dalam beberapa foto itu. Wajah kekasihnya kah itu?

Lima bulan yang lalu, sebelum poninya jatuh hampir menutup mata, aku mendapati rambutnya terikat rapi ke belakang hampir tiap hari. Dengan kacamatanya, yang sekarang tidak pernah kelihatan lagi olehku, ia membaca hampir di setiap pojok ruang yang ia datangi. Ya, ia tertarik pada sastra. Roman berbahasa Prancis di rak sebelah kanan itu jejaknya. Kalau kau periksa lagi, kau akan mendapati beberapa tema yang hampir sama dalam beberapa roman. Tentang kekasihnya kah itu?

Delapan bulan yang lalu, sebelum kacamata dan rambut terikat kebelakang itu, aku terbiasa dengan rambutnya yang dipotong rata sebahu dengan poni yang membingkai sebelah kiri wajahnya. Waktu itu, mulai dari jam delapan sampai hampir tengah malam ia akan berlatih vokal. Ia bernyanyi dengan tidak terlalu merdu dan tidak terlalu berteknik. Tapi kalau kau periksa lagi, kau akan mendapati sebuah nama yang dinyanyikannya dalam beberapa lagu berbeda. Nama kekasihnya kah itu?

Entahlah. Tahun lalu yang kuingat ia pernah dipanggil Lana, Ela, Kate, Amy, Marlin, Emily, Jane, dan.. tidak tahulah aku, pokoknya banyak. Ia pernah kecanduan membuat film, membaca novel, meramal kepribadian, memasak, berkebun, membuat tembikar, dan mungkin ada lagi yang lupa kusebutkan.

Gadis ini luar biasa. Ia selalu menjadi baru ketika cukup letih dengan ia yang lama. Kecanduan menjadi baru mungkin cukup membingungkan bagi beberapa, atau sebagian besar, orang. Tapi asal tahu saja, aku memujanya.

Oh ya, perkenalkan, aku Elena, gadis bercelana jingga terang di cerminnya saat ini. Aku alter ego terbarunya.
 

Salah Pilih

Salah Pilih


“Jane, kali ini kau benar-benar salah pilih. Percayalah”.
“Aku tidak mungkin salah pilih, John. Tenanglah. Kau ingat, aku sudah memilih pakaianku sendiri untuk setiap pentasku sejak umur tiga tahun, dan semuanya berhasil”.
“Ayolah, Jane. Ini bukan tentang fashion show. Maaf, Jane. Tapi menurutku bahkan kau tidak menggunakan matamu kali ini”.
Jane tertawa masih dengan penuh rona. Oh, Jane yang malang. Aku bersumpah melihat sebotol anggur di matanya. Beginikah mabukmu, Jane?

*

“Apa kubilang, kau salah pilih, Jane!”
“Jangan berlebihan, John. Aku bahkan belum mulai mengoreksi”.
“Kalau begitu mulailah sekarang, Jane. Sebelum semuanya terlambat”.
“Ya ampun. Sejak kapan kau jadi semengganggu ini, John?”
Jane hanya tersenyum. Senyum yang tanpa rona. Aku bersumpah melihat kilat ragu di matanya. Mulai goyah, Jane?

*

“Kena kau sekarang, Jane! Ayolah akui saja”.
“Akui apa, John? Kalau aku salah pilih?”
“Tentu. Bahkan dunia sudah tahu betapa buruknya pilihanmu kali ini, Jane”.
“Baiklah. Benar, John, aku salah pilih. Terima kasih sudah memberi tahu dunia betapa bodohnya aku”.
Jane terisak. Aku bersumpah melihat segumpal api di matanya. Kepada siapa api itu akan kau bakarkan, Jane?

*

“Ada apa lagi, Jane? Apa yang kurang?”
“Aku candu, John. Kau tidak bisa menyelamatkanku, percayalah”.
“Oh, Tuhan. Jadi apa yang akan kau lakukan, Jane?”
“Mulai dari awal, John. Aku bersumpah tidak akan salah pilih lagi. Aku yang akan jadi pilihan kali ini”.
Jane tidak tertawa, tidak tersenyum, tidak merona, tidak terisak. Entah apa itu namanya. Aku bersumpah melihat hamparan salju di matanya. Dingin. Jane mati.

Matematika Kita

                       Matematika Kita                      


Ada yang ganjil dengan matematikaku.
Awalnya kujumlahkan aku dan kamu agar genap dua. Ternyata hasilnya malah tiga.
Kuganti jadi pembilang dan penyebut yang kemudian kubagi. Hasilnya satu.
Tetap ganjil.
Tahukah? Aku curiga matematika kita akan terus ganjil,
karena logikaku mengidentifikasikanmu sebagai bilangan genap, yang tidak habis dibagi.
Jadi kuberi logaritma di depan kita, kalau-kalau ada pengaruh. Hasilnya jadi koma.
Aku Koma.
Panik,
Terus kuotak-atik angka untuk menggenapkannya, dan ternyata malah kukuadratkan jadi sembilan!
Ah, sudah terlalu penuh disini.
Sesak.
Baiklah, aku menunggu di luar saja. Biar waktu yang menggenapkan.

Tidak Perlu Tidur Lagi, Em..

Tidak Perlu Tidur Lagi, Em..


2004
"Percayalah, kamu tidak perlu menari untuk merasa senang, Em"
"Benarkah? Jadi apa yang bisa kulakukan pada jam-jam biasa aku menari, Ma?"
"Mama pikir kamu perlu istirahat. Bagaimana kalau tidur saja?"

2005
"Em, mulai besok tidak usah latihan marching lagi ya"
"Kan cuma dua jam, Ma?"
"Iya, tapi kata dokter Em tidak boleh kena panas"
"Berarti aku harus berhenti jadi mayoret juga?"
"Percayalah, kamu tidak perlu jadi mayoret untuk tetap popular Em. Mungkin tahun depan. Sekarang kamu perlu lebih banyak istirahat. Mama pikir lebih baik tidur siang"

2006
"Bagi Mama yang penting raport kamu bagus. Tidak perlu lah ikut lomba ini itu"
"Aku harus resign, Ma?"
"Mama pikir begitu. Jam sekolah saja sudah 7 jam, latihannya sampai 4 jam sehari, malam harus buat PR lagi. Kata dokter kan Em tidak boleh banyak pikiran. Mama lebih suka kamu tidur siang seperti dulu lagi"

2007-2011
.
"Jadi Em tidak ikut perpisahan kelas?"
"Tidak, Ma. Tempatnya panas. Lebih enak tidur siang"
.
"Loh, Em, berhenti kelas drama?"
"Iya, Ma. Satu adegan diulang-ulang, Capek. Lebih enak tidur siang"
.
"April sudah seminggu ini ikut kursus. Em tidak mau?"
"Kursusnya siang, Ma. Nanti aku tidak bisa tidur dong"
.
.
.
.
"Tidak bisa, Ma. Itu jam tidurku"



2012
"Ah, Mama pikir tidak perlu tidur lagi, Em. Terserah kamu mau lakukan apapun seharian, Mama yakin kamu sehat"
"Yang benar, Ma?"
"Iya, tidak terlalu penting apa kata dokter. Selama kamu merasa sehat, itu artinya kamu sehat. Mama yakin"

Surat Untuk Yang Belum Ada Nama

 Surat Untuk Yang Belum Ada Nama


Kamu yang belum ada nama, kemarin malam saya berdoa untuk kamu. Isinya supaya kamu baik-baik saja dimanapun kamu berada dan kamu selalu dijauhkan dari apapun yang bisa menghancurkan kecemerlanganmu itu.

Kamu yang belum ada nama, sudah satu minggu ini saya berdoa untuk kamu. Isinya supaya kamu  sehat-sehat saja di November yang dingin ini, supaya kamu tidak kena batuk, pilek, pusing, mual, dan sakit tenggorokan seperti saya sekarang.

Kamu yang belum ada nama, sebulan terakhir ini saya berdoa untuk kamu. Isinya supaya urusanmu lancar-lancar semua, semoga kamu sukses. Apapun urusanmu itu, saya tidak mau kamu sedih karena itu gagal.

Kamu yang belum ada nama, sebenarnya beberapa bulan ini saya berdoa untuk kamu. Isinya supaya jalan kamu untuk menemukan saya tidak dibuat terlalu rumit oleh Tuhan dan supaya di tengah jalan kamu tidak kelelahan
lalu memutuskan untuk memutar balik.

Kamu yang dulu sempat ada nama lalu saya putuskan untuk mengubah kamu menjadi belum ada nama, saya sedang siap-siap sekarang. Saya benar-benar mau membanggakan kamu, membuat kamu berpikir saya terlalu berharga untuk dilepas lalu diganti dengan yang lain.

Kamu yang masih disimpan Tuhan namanya, saya pernah berharap namamu harus sepadan dengan nama saya, biar bisa kita akronimkan buat nama belakang Si Kecil I dan Si Kecil II. Belakangan saya pasrah saja. Apapun namamu, mau Ali, Badu, Candra, Dodi, sampai Zul pun tidak masalah,  yang penting kamu sayang saya.

Kamu yang belum ada nama, berjanjilah untuk saling tidak mengecewakan.

Kamar Imajiner

Kamar Imajiner


Dulu, dulu sekali, ada seorang gadis kecil yang biasa duduk disini. Ia menerbangkan balon harapan tiap hari. Ya, balon harapan. Balon biasa yang di dalamnya ada selembar surat berisi harapan-harapan sederhana. Aku pernah mencuri baca harapan tersebut, "Semoga Mama masak gulai nangka hari ini", "Semoga oleh-oleh Papa dari luar kota adalah boneka Susan", "Semoga Nenek cepat sembuh", "Semoga Bik Sri pulang lagi habis lebaran nanti", dan sejenisnya, dan masih banyak lagi.

Gadis kecil ini menerbangkan balon harapan dengan penuh keyakinan bahwa balon tersebut akan sampai ke tempatnya, ke kamar imajinernya yang ada di ufuk timur 2.3 juta cahaya dari Capella biasa termangu pada tengah bulan. Ia titipkan sebentar harapannya disana dan akan diambilnya nanti. Benar-benar nanti. Karena ia percaya suatu saat nanti dia benar-benar bisa terbang dan mendarat dengan nyaman di kamarnya yang 2.3 juta cahaya dari Capella biasa termangu pada tengah bulan itu.

Suatu hari, ia datang dengan menangis sambil menuliskan selembar harapan. "Semoga temanku yang satu itu dibuang Tuhan ke Antartika". Harapan itu terbang dalam sebuah balon hijau. Namun, hanya beberapa meter setelah lepas landas, duar! Balon hijau meletus membiarkan lembar harapan tadi mencumbu tanah yang basah.

Gadis itu segera sadar bahwa tidak semua harapannya bisa terbang sampai ke kamar imajinernya. Harapan yang bisa terbang setinggi-tingginya hanyalah harapan yang baik. Ya, harapan yang buruk hanya akan menjadi noda di kamarnya.

Sampai sekarang, aku yang tua ini terus berdoa, dimanapun gadis kecilku itu berada, ia diselamatkan dari harapan-harapan yang buruk, harapan-harapan yang salah. Karena untuk terbang sejauh dan setinggi kamar imajinernya itu, ia tidak boleh salah arah.

Ps: Aku, jendela ruko tuamu.

Rumah dengan Seribu Jendela

Rumah dengan Seribu Jendela


Bayangkan rumah dengan seribu jendela. Ya, rumah. Benar-benar rumah. Lalu ada tiga pohon mawar mini di bawah setiap jendelanya. Berpinggiran coklat tua agar manis membingkai senja. Ada satu yang paling besar ditengah. Di sebelah dalam jendela yang paling besar itu ada meja kecil tempat kita minum kopi di pagi hari, melepas kemelut pada tiap buih yang kita hirup.

Ah, kamu masih tidak suka kopi?
Ya sudah, kita ganti teh hangat saja. Asal tahu, senyum kamu itu lebih membangunkan dari segelas besar kafein bagi saya.  Tanpa senyum itu, saya lelah, saya koma. Lebih baik saya tidur terus. Serius.

Lalu bagaimana kalau langit di luar benar-benar mendung kemudian angin kencang memburu masuk lewat seribu jendela itu?
Entahlah. Lah, yang penting kan ada kamu. Asal tahu, matahari saya itu kamu. Tanpa kamu, saya mendung, saya abu-abu. Lebih baik saya berselimut terus. Serius.

Eh, bunga mawar di bawah setiap dari seribu jendela tadi bagaimana menyiramnya?
Tunggu sebentar, biar saya pikir-pikir dulu. Kita buat jendela yang tanpa balkon, biar hujan bisa menghidupiny. Kalau hujan sedang enggan turun,  kita yang akan menghidupinya. Kita itu kamu dan saya. Kamu di lima ratus jendela sebelah kanan, saya di lima ratus jendela sebelah kiri, lalu kita bertemu di tengah di jendela yang paling besar. Bagaimana?

Ya, kamu benar. Saya memang sering tidak masuk akal. Maaf. Ya sudah, jendelanya dikurangi jadi dua, dengan lima pohon mawar mini dibawahnya. Biar saya yang siram tiap pagi, kamu minum teh saja di teras. Kalau seperti itu, masih tidak mau juga kah kamu menjadi bagian dari rumah saya?
 

Untitled

Aku. Sesak. Oleh. Rindu. Baca. Saja. Sendiri.  Catatan. Ini. Tentang. Aku. Kamu. Dan. Jarak. Yang. Terus. Minta. Dimaklumi.

Episode Satu
Aku merasa Kamu kedinginan sekarang. Di Alaska kah kamu? Atau di Rusia? Aku baca suhu di Rusia bisa sampai minus lima puluh saat ini. Mudah-mudahan ada perapian yang hangat di rumahmu. Ah, kamu pasti punya. Ya, disini juga sedang musim hujan. Dinginnya minta ampun. Kita kedinginan. Aku kedinginan di rumahku yang di seberang kios pisang goreng itu, Kamu kedinginan, kalau tidak, di Alaska, ya di Rusia. Pokoknya jauh.

Episode Dua
Jadi bagaimana La-Seine? Apa sama romantisnya dengan yang di film-film? Kurasa. Apalagi yang bisa mengubah diksimu menjadi begitu manis kalau bukan suasana kota Paris.  Oh ya, kalau sempat, tolong kirimkan aku selembar kartu pos bergambar sungai La-Seine untuk menghipnotis Momo, ikan di akuarium taman kota sejak tiga bulan lalu, agar mau menikahi Mae yang baru masuk tadi siang. Kau tahu, desain akuarium Momo kadang mengubah diksiku menjadi lebih manis. Diksi kita berubah. Aku karena akuarium Momo di taman kota, Kamu karena La-Seine atau tempat manis mana pun yang paling tidak sejauh dari sini ke Paris. Pokoknya jauh.

Episode Tiga
“Aku merasa dia ada di Korea utara, atau Palestina, atau Papua. Mana yang paling mungkin menurutmu?”
“Ada banyak daerah konflik di kota ini yang mengkin membuatnya setakut itu”
“Bukan, bukan di kota ini. Percayalah, kalau tidak di Korea Utara, Palestina, ya pasti Papua. Pokoknya jauh”.

Mau dibuat sampai episode berapa? Ah, nanti kalian jenuh. Intinya, kalian harus tahu kalau ia sangat jauh, berjuta-juta kilometer dari sini. Jadi wajar kalau rindu ini tidak pernah sampai. Rindu ini diam atau gaduh pun tetap tidak ada Pak Pos yang sudi membunuh jarak sejauh itu. Jarak yang salah. Jadi jangan pernah salahkan  rinduku yang diam ini lagi ya?

Simulasi Kata

Simulasi Kata


         Aku menatap ponselku dengan pilu. Detak jam dinding mulai terdengar menertawaiku. Ini sudah hampir tengah malam ketika aku mendapati kabar darimu setelah seharian menunggu.
         Maaf, aku ketiduran. Kau sudah tidur juga, kan? Selamat malam, semoga mimpi indah. Aku mencintaimu.
         Kalimat itu sembilan puluh persen sama dengan pesanmu 23 jam yang lalu. Apa kau membuat template selamat tidur untukku, Sayang? Sudah dua minggu selalu seperti ini.
         Aku belum tidur.
        Kuputuskan untuk membalas pesan itu malam ini, kemudian menunggu sekitar lima belas menit sampai akhirnya yakin kau tidak akan membalasnya lagi.

*

         Getar ponsel membangunkanku. Samar kulihat jarum jam menunjuk angka 4 dan 5, yang entah artinya 4.25 atau 5.20. Sebuah pesan masuk darimu.
        Aku langsung tidur lagi semalam, maaf. Selamat pagi, semoga ujianmu sukses hari ini. Aku mencintaimu.
        Aku terlalu pilu untuk membalas pesanmu. Sulit mengartikanmu dan beberapa kalimatmu akhir-akhir ini, terutama di bagian akhir setiap pesanmu itu. Beberapa kata diciptakan indah hanya ketika kau benar-benar mengerti maknanya.

*

        “Aku sudah tidak paham denganmu, Jack”.
        “Bagian mana yang tidak kau pahami? Pola tidurku?”
        “Tidak. Ini tentang beberapa kalimatmu”.
      “Bagian yang mana, Kate?”, katanya sambil mengambil salad di pinggir piringku. Aku membaca ekspresinya. Datar. Seperti biasa.
        “Bagian yang aku mencintaimu”.
        Ia diam. “Ada yang salah dengan kalimat itu?”
       “Ya. Aku tidak pernah melihatmu terlihat seperti kalimat itu”.
       Ia menghela napas. “Kau menaruh ekspektasi terlalu tinggi padaku, Kate. Ingat, kita hanya melakukan simulasi kan? Sekedar latihan kalau-kalau kita punya kekasih nanti”.
Jack benar. Aku mulai tenggelam dalam simulasi kami.

Mata dari Marlin

Mata dari Marlin


“Suara hujankah itu, Marlin?”
“Ya. Mau kutambah gula lagi di kopimu?”
“Kenapa begitu gaduh?”
“Karena ini bulan November, Em. Mau kutambah gula lagi di kopimu?”
“Bagaimana bentuk hujannya, Marlin? Apa masih berbentuk air? Kenapa benturannya terdengar keras sekali?”
“Masih air, Em. Seperti biasa. Hanya kali ini mereka lebih ramai”.
Aku mengangguk. “Boleh tambahkan gula di kopiku, Marlin?”, kataku sambil menyodorkan cangkir kopiku pelan-pelan ke arah suara Marlin. “Apa nanti setelah hujan yang ini tetap ada pelangi, Marlin”.
“Kurasa”.
“Apa aku ada pakaian warna pelangi, Marlin? Seingatku Mama pernah bilang ada pelangi di lemariku”.
“Tidak ada, Em. Itu cuma handuk, yang sering kau pakai untuk mengeringkan badan sehabis mandi itu”.
“Sayang sekali, Marlin. Padahal aku mau melihat pelangi saat pertama kali membuka mata besok”.
“Kurasa besok akan hujan lagi, Em. Tenanglah”.
“Marlin. Terima kasih sudah menjadi mataku tiga belas tahun ini. Kau lebih dari teman. Kau anugrah Tuhan. Asal Kau tahu”.

*

“Em, katakan sesuatu. Apa kau melihat kami?”
Aku menangkap suara Mama di depanku, beberapa detik sebelum beberapa butir cahaya masuk pelan-pelan, berbaris semakin rapat, membentuk beberapa dimensi. Seseorang dengan rambut sebahu dan mata yang lebar tepat ada di depanku saat ini.
“Mama?”, tanyaku pelan.
Mama memelukku, diikuti Papa, lalu Melissa. Dokter Blane menjabat tanganku sambil mengatakan “Selamat”. Aku mengenalinya dari suaranya.
“Ma, dimana Marlin?”
“Oh ya, tentu saja. Melissa, bawa Marlin kesini”, pinta Mama lembut. Beberapa menit kemudian Melissa datang dengan sebuah boneka berkepang dua dan berpakaian lusuh di tangan kanannya.
“Katakan Halo pada Marlin, Em”.