1 Februari 2012
Dear Amy,
Jadi
inilah surat cinta pertama kita. Bagaimana kalau diawali dengan perkenalan
singkat? Aku Jack. Aku jodohmu dari masa depan.
Sejak pertama menghirup oksigen di dunia yang sempit ini, aku sudah tahu kalau
kita berjodoh. Percayalah.
Ah,
mungkin Kau mulai berpikir kalau Aku ini penggemar beratmu. Sejenis maniak
begitu, ya? Mungkin ada benarnya, di bagian Aku menggemarimu. Aku menggemari
diriku sendiri tepatnya, dan setiap detail yang membangun Aku. Termasuk lah
tulang rusukku, Kau.
Baiklah,
cukup dulu. Besar harapanku bahwa Kau membacanya tidak dengan tangan yang gemetaran, melainkan dengan lima sentimeter senyum gulamu itu dan beberapa debaran. Oh ya, Aku akan rajin
menyuratimu. Mohon jangan keberatan.
Jack, jodoh masa
depanmu.
Ini kali keempat kubaca lembaran merah
muda yang mampir di kotak surat pagi tadi. Surat ini dibungkus amplop berwarna
sama dengan gradasi sedikit lebih tajam. Aroma black rose tergesa-gesa masuk ke saluran napasku saat pertama
amplop dibuka. Ia menyemprotkan surat ini dengan parfum yang terasa familiar.
Parfumku. Benarkah?
Dibelakang amplop tertulis sebuah
alamat. Aku tidak begitu mengenalinya kecuali bagian kota yang kalau tidak
salah enam jam dari sini. Tidak terlalu jauh. Akan Kau jemputkah Aku
suatu hari nanti, wahai jodoh masa depan?
19
Juli 2012
“Amy? Amy? Ayo, cepat bangun. Kau harus
lihat ini”, kudengar suara Mama di sela-sela mimpi fajarku. Mama menyeretku
dengan sigap menuju teras depan. Ada yang berbeda dengan bagian depan
rumahku hari ini. Semacam terbungkus dengan gelombang merah tua. Aku belum
begitu sadar. Namun angin pagi ini dinginnya makin menguliti, dan dengan
mencuri-curi, mampir ke indra penciumku mengantar aroma black rose yang
familiar. Kesadaranku meningkat.
Mereka adalah segerombolan mawar merah
tua. Yang kelopaknya merekah, aromanya semerbak megah. Entah jumlahnya berapa,
yang jelas cukup untuk menyelimuti teras, rerumputan, sampai ke tepi pagar. Aku
masih terperangah saat Mama mengambil lembaran merah muda tidak jauh dari tempat
kami berdiri.
“Selamat ulang tahun, Amy. Semoga
senang”.
Mama menatapku lekat-lekat. Wajahku
masih datar, kata-kataku masih beku, namun hatiku sudah girang bukan kepalang. Ya, Aku senang. Oh, Jack, berapa banyak mawar di taman kota yang Kau petik?
1 November 2012
Dear Amy,
Hujan
semakin gila saja. Rerumputan di depan rumahku tidak pernah kering. Lumut
dengan tanpa malu mencumbu lekat kulit pohon, mencoba berbiak dengannya. Bah!
Kau tahu, Amy, bahkan aku terpeleset karenanya. Terpeleset dari pohon setinggi
hampir tiga meter! Itu benar-benar nyaris. Tidak ada yang menduga Aku bisa
kembali sebugar sekarang setelah kejadian itu.
Hey, bagaimana kalau Kau menyuratiku sesekali? Menyuratiku untuk
menceritakan lebih banyak tentangmu yang sulit untuk aku cari tahu. Seperti
makanan, warna, film, buku, atau apapun yang paling Kau senangi. Aku hanya tidak sabar
untuk lebih mengenal jodoh masa depanku. Harap maklum.
Jack, jodoh masa
depanmu.
Dua jam yang lalu, aku kegirangan saat
pertama mendapati bahwa ia ingin aku membalas suratnya, pada suratnya yang ke-11. Sekarang aku kacau
balau, mematung di hadapan beberapa gumpal kertas yang seharusnya sudah menjadi
selembar surat cinta balasan. Entahlah, Jack. Aku tidak pernah menulis surat
cinta. Padahal aku tidak perlu berpuisi juga kan? Sekedar menceritakan bahwa aku
penggemar pie anggur, biru tosca, The Artist, dan apapun yang pernah Kau
sebut sebagai bagian dari kesenanganmu.
Pernah makan pie anggur, Jack? Bukankah itu jarang tersedia untuk dijual? Aku
bisa membuatkannya untukmu. Mungkin sebagai hadiah ulang tahun. Kapan ulang
tahunmu, Jack? Ah, mudah-mudahan belum lewat.
20 Desember 2012
Dear Amy,
Aku
kian sekarat. Mungkin akan lebih baik kalau Kau datang menjengukku. Oh ya, Kau
belum melewatkan ulang tahunku. Datanglah kerumahku, pada akhir tahun ini, pada
ulang tahunku. Ibu akan menjahitkanmu sweater biru tosca. Kalau tidak repot,
bawakan kami pie anggur buatanmu itu, ya. Maaf tidak bisa panjang
lebar. Senang bisa menyuratimu sepanjang tahun. Tahun ini akan jadi begitu
sakral bagi kita di masa depan.
Jack, jodoh masa
depanmu.
Aku termenung. Mengingat-ingat kejadian
20 hari yang lalu. Tentang apa yang kulakukan setelah mengarang selembar surat
cinta untuk jodoh masa depanku ini. Kukirimkan kah? Tidak. Aku yakin benar,
tidak. Surat itu berakhir menggumpal, bergulir bulat-bulat di tempat sampah.
Bagaimana Kau bisa tahu isinya, Jack?
***
Pikiranku berkelana sepanjang perjalanan.
Melepas angan pada tiap rintik hujan yang mampir di jendela. Ini adalah hari
terakhir di tahun pertama aku mendapat surat cinta dari jodoh masa depanku. Aku
menyimpan semuanya. Aku turun di sebuah halte setelah lima
jam menyusuri jalanan licin, kemudian mulai berjalan dengan langkah panjang
pada lorong sempit yang dihimpit pagar hijau dari rumah-rumah di kiri-kanannya .
Hujan turun pelan-pelan. Membasahi ubun-ubun, kemudian turun ke kuduk. Ada
sekotak pie anggur yang hangat dalam
pelukku. Sebisa mungkin aku melindunginya dari bumi yang kotor oleh air kubang
dan langit yang kotor oleh awan legam.
Langkahku berhenti pada sebuah alamat. Pada
sebuah rumah sederhana yang dikerubungi pekarangan hijau yang cukup luas.
Beberapa pohon tinggi tumbuh membayanginya. Pandanganku berhenti pada salah
satu diantaranya, pada yang berdiri rumah pohon di pucuknya. Kapan-kapan kita
harus duduk disana, Jack. Menyaksikan mawar dari taman kota atau sekedar mencaci
hujan yang berani hadir hanya jika bergerombol.
Pelan-pelan Aku menuju ke pintu depan.
Sepatuku meninggalkan jejak kecoklatan pada lantai teras depan yang berwarna
kuning muda. Aku memencet bel, mengatur posisi berdiri, menata senyum supaya
tetap lima sentimeter. Semenit kemudian, seorang wanita paruh baya berdiri di
hadapanku. Rambutnya digulung rapi ke belakang. Kulitnya terlalu pucat dan ada lingkar hitam di
kedua kantung matanya.
“Kediaman Jack? Aku Amy, teman penanya”,
kataku mengulurkan tangan, masih dengan senyum paling ramah. Wanita itu
menyambut tanganku dengan pandangan matanya yang tidak bergerak, menangkap
sepasang bola mataku lekat-lekat. “Masuklah, Amy”, kemudian katanya, nada suaranya
ramah, walaupun tidak dengan mimik wajahnya.
Aku menghela napas pelan-pelan. Rumah
ini terasa lembab dan pengap, mungkin
juga karena langit-langitnya yang rendah. “Aku bawakan pie anggur, buatanku
sendiri”, kucoba memulai percakapan. Wanita itu mengambil sekotak pie yang
kutawarkan dan menaruhnya di meja, “Terima kasih. Ini luar biasa”, kemudian
katanya ramah dan berjalan lebih cepat untuk mendahuluiku, menuntunku
pada sebuah ruangan.
Ruangan itu berdinding hitam. Ada kertas
dinding bermotif mobil-mobilan membungkus salah satu sisi dindingnya. Tepat di
depan kami ada sebuah jendela yang cukup besar. Di bawahnya ada meja yang
memuat koleksi robot dan sepeda ontel.
Aku melirik ke sebelahku. Seseorang
tampak tertidur pulas disana. Tidur yang sangat pulas dengan mata yang terkunci
rapat. Di sekitar sepasang mata itu ada lingkar hitam yang membuatnya tampak
sangat tidak sehat. Kulitnya juga kering dan pucat. Entahlah. Ia terlalu tenang
untuk sekedar tidur. Kukira ia koma. Ia sangat tua. Mungkin hampir di penghujung usianya Itu
membuatnya tampak berkali-kali lebih menderita.
Wanita yang menuntutunku ke ruangan itu
kemudian mendekat padanya, pada telinganya. “Bangunlah, Jack. Jodohmu sudah
datang”.
Aku terkesiap. Lelaki tua itu mendadak membuka mata, mencoba sekuat tenaga untuk menghela beberapa butir oksigen yang lewat, mengumpulkan energi untuk sekedar menggenggam lemah jemari tangan kananku. "Ayo pulang, Amy", suaranya serak.
Seketika jemariku mengeriput. Kemudian tanganku, kemudian sekujur tubuhku. Kami pulang ke masa depan.