Jumat, 05 Desember 2014


maaf untuk tidak mampu menjadi rumah bagimu : tempat yang kau rasa paling nyaman untukmu menetap; tempat yang kau ingat untuk pulang kepadanya sejauh apapun kau bepergian.

dan sungguh akupun sudah kehabisan alasan untuk membuatmu 

Betah.

Jumat, 31 Oktober 2014


karena kepadanya
kau tidak bicara sembarangan, juga tidak berbuat yang menyakitkan. kau akan senantiasa berusaha untuk menyenangkan.
Namun ketika kau merasa hadirmu malah akan merepotkan, maka kau akan mundur perlahan.
sungguh bukan karena kau tidak terima perkataannya yang merendahkan, bukan juga karena kau merajuk oleh bentakan, apalagi karena ingin cari-cari perhatian.
kau mundur karena kau tahu bahwa kau me-re-pot-kan.
dan cukup bagimu untuk memperhatikannya dari kejauhan, sambil sesekali berdoa untuknya ketika kau merasa ia sedang dalam kesulitan.
dan kau tidak takut ia akan membencimu.
kau tetap diam saat ia mencecar hilangmu.
karena kau yakin, doa-doamu akan sampai padanya, dan memangkas tiap benih benci yang hampir tumbuh, dan menggantinya dengan rindu yang gaduh.

bukan begitu?

dan semoga ketika kau putuskan untuk mendiamkan rindu itu, aku sudah sembuh.

Sabtu, 20 September 2014

suatu bab


"Kau tahu betul, bukan? Bahwa aku tidak pernah benar-benar pergi sejak hari itu karena aku merasa sungguh bertanggung jawab atas masa depanmu. Tapi justru sejak hari ini aku jadi berpikir akan kehilangan masa depanku"

"Ayolah, quentin. Hentikan percakapan bodoh ini. Kau tidak pernah benar berjuang untuk masa depanmu".

"Aku berjuang untuk masa depanku. Menurutmu bagaimana rumah tua dan sepetak tanah itu? Jatuh dari langit?"

"Bukan. Bukan itu. Ini masalah pengakuan, Quentin. Kau tidak pernah mengakui untuk siapa rumah tua, sepetak tanah, mobil mini, dan digit di rekeningmu itu".

"Ya Tuhan, Candaceku. Orang dewasa tidak akan pernah mempermasalahkan tentang pengakuan, kau tahu".

"Nah, dan itu. Kau selalu mengkritikku kekanakan. Katakan perihal pengakuan tadi pada ibumu yang simpanan orang itu, dan lihat siapa yang sebetulnya kekanakan"

"Kau keterlaluan"

"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat. Akupun sudah merancang masa depan baru sekarang, yang lebih tentu. Bukan perkara materi, ini perkara langkah yang akan kami ambil nanti".

Candace berlalu.
Quentin menyaksikan masa depannya berlalu.
Harus dilepaskannya lagi kah? Atau mesti ia kejar untuk kemudian diikatnya?
Ya, kali ini benar diikatnya.
Maka pergilah Quentin ke pusat perniagaan, siang terik ini juga. Membeli jas yang tidak ala kadar seperti yang ada di lemarinya.

***

Bab ini sungguh kita, ya?
Bedanya, aku tidak pernah seberani Candace untuk benar-benar meninggalkan, dan Kau tidak pernah seberani Quentin untuk benar-benar memperjuangkan.

Selasa, 09 September 2014


Dan tahu lah saya bahwa benar saya ini Si Antagonis; yang pembenci, yang pendengki; tukang caci, tukang maki.
Yang selalu kalah lawan para protagonis.
Yang diabaikan dukanya, yang ditunggu-tunggu jatuhnya, yang tidak pernah dihitung berapa kali gagalnya.
Karena penonton rupanya kelewat sibuk dengan pesta kemenangan protagonis yang sampai dini hari. Karena penonton rupanya kelewat risih dengan si antagonis yang bolak balik bangkit lagi.


Kemudian kalian mengkuliahi saya tentang pentingnya berubah menjadi seperti si protagonis.
Bah!
Capek saya. Muak. Mau muntah.

Selasa, 02 September 2014

Sebuah Pertemuan


Dan dengan tingginya frekuensi ditinggalkan, aku masih merasa pantas untuk sebuah pertemuan yang tanpa perpisahan. Mohon tidak keberatan.

Ke Tati; Ke Parman


(Ke Tati...)
Parman menatap jenuh pada toples yang setengah penuh.
Kemudian mulai mengingat-ingat bagaimana awal ia bisa bosan menjadi dermawan; dermawan yang suka hambur hati sana sini.
Kemudian Parman mengingat-ingat bagaimana tiap derma itu berakhir dengan caci maki, tanpa satu pun terima kasih.
Tanpa satupun,
Kecuali dari Tati.
Dan Parman ingat bagaimana terima kasihnya Tati;  "Terima kasih sudah bermain hati hari ini. Kujahit dulu ya, besok ambil laggi"-nya Tati.
Maka tahulah Parman bagaimana ia bisa membunuh jenuh : Ke Tati.


(Ke Parman...)
Tati menatap anjing jalanan yang acuh pada remukan hati yang ia dermakan.
Kemudian Tati mengingat-ingat bagaimana awalnya anjing jalanan yang kelaparan dan tak sabaran untuk mengenal waktu tunggu pun bahkan menolak remuk hati itu.
Kemudian Tati mengingat-ingat bagaimana tiap dermanya tampak seperti obralan murah suka rela tanpa satupun pinta.
Tanpa satupun,
Kecuali dari Parman.
Dan Tati ingat bagaimana pintanya Parman;
"Tolong pantaskan lagi hati ini untuk dibawa besok pagi"-nya Parman.
Maka tahulah Tati bagaimana ia bisa merasa diminta : Ke Parman

Kamis, 28 Agustus 2014

"Setiap mantan akan nikah pada waktunya, dan ga akan ada pengaruhnya sama waktu tiba jodoh kita yang hakiki.
Yok, udahan sedihnya :)"

Terima kasih, ya. Entah kenapa kalimat itu efektif sekali untuk membangunkan saya. Saya beruntung kenal kamu. Semoga Allah kasih manfaat yang banyak buat orang yang banyak manfaatnya kayak kamu ya :))

Jejak


Kemudian aku bersandiwara. Tentang jejakmu yang sudah dimakan ngengat

dan aku yang sudah berhenti mengingat-ingat.

Selasa, 26 Agustus 2014

prolog











Candace
Menatap cermin sekali lagi, kemudian menebalkan gincu dan perona pipi untuk kembali bersembunyi. Bersembunyi dari dirinya sendiri, yang lelah dan sangat jenuh dalam hal bertahan; ini terkait dengan konka yang menebal, bronkus yang berlubang, getah bening yang meradang, penghantar saraf yang menyimpang, sampai kepribadian yang terpecah-yang terakhir tidak pernah diterimanya sebagai kebenaran walaupun yang lain juga tidak pernah disebutkannya dalam wawancara rekam medik.
Sekali lagi Candace bercermin. Kali ini ia yakin, ia bugar dan karenanya terlihat cantik. Dan oleh sebab itu pula ia berhak bahagia.
Memangnya apa yang lebih penting dari rupa?


Quentin
Menatap cermin sekali lagi, kemudian menambahkan sedikit jel agar tampak klimis untuk kembali bersembunyi. Kembali bersembunyi dari dirinya sendiri yang lelah dan sangat jenuh dalam hal berbenah; ini terkait dengan banyaknya orang-orang hina yang ditemuinya dalam usaha untuk mendapat tambatan hati-yang mana ia yakin bahwa ia adalah lelaki baik-baik yang pantas, dan hanya pantas, untuk mendapatkan perempuan baik-baik walaupun nyatanya selama ini yang datang padanya melulu orang yang tidak baik.
Sekali lagi Quentin bercermin. Kali ini ia yakin, ia klimis dan karenanya terlihat baik. Dan oleh sebab itu pula ia berhak bahagia.
Memangnya apa yang lebih penting dari hati?


Ini bukan picisan.
Belilah novel ringan atau buku tentang rahasia kaya tujuh turunan jika ingin bacaan yang menyenangkan.

Minggu, 03 Agustus 2014


Bukannya dengki. Tapi tidak sampai pula mengagumi.
Ini rasanya seperti..
Duh. Bagaimana ya menjelaskannya?
Begini,


Anggap kau adalah seorang anak perempuan yang kesepian. Suatu hari, wali kelasmu mengumumkan bahwa ia akan memberikan seekor anjing bagi yang mendapat nilai tertinggi di kelas. Itu bukan jenis anjing dengan bulu mewah, atau berparas setengah serigala. Sekedar anjing biasa, yang lucu, dan hangat. Kemudian wali kelasmu menitipkan anjing itu padamu, untuk kau rawat, sampai hari pembagian rapor tiba.

Maka kau bawa anjing itu pulang ke rumahmu, kau ajak bicara, kau beri makan, kau ajak jalan-jalan, kau beri nama, kau pajang foto kalian saat bermain di taman kota di lokermu seolah-oleh ia benar-benar sudah jadi anjingmu. Milikmu. Dan perlahan, kau mulai merasa tidak lagi kesepian.

Namun saat hari pembagian rapor tiba, wali kelasmu memberikan anjing itu ke anak perempuan di bangku sebelah, yang tentu saja karena ia mendapat ranking pertama. Kemudian kau dipaksa untuk tetap kuat saat menyerahkan anjing -yang selama ini sudah kau anggap milikmu- itu. Bagaimana dengan si anjing? Anjingmu tampak riang. Mungkin karena ia bangga menjadi milik Sang Juara Kelas.


Apa yang kau rasakan tiap melihat Si Anak Perempuan di Bangku Sebelah?

Ya. Seperti itulah yang kumaksud kiranya.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Sebuah Dongeng Tentang Menunggu



Namun yang saya tahu tentang menunggu,
semakin saya coba berdamai dengan waktu, semakin ia coba membunuh.

Perihal Ketakutan

"Perihal ketakutan. Ia adalah yang datang padamu dengan terburu-buru ketika kau membayangkan cuaca buruk, kucing yang kelewat gemuk, nyala api yang berkobar, kabar yang tak ingin kau dengar, penyakit yang tak kunjung sembuh, hingga kekasih yang selingkuh".
Dahimu berkerut. Kemudian kau mencela bertubi-tubi dalam hati tentang bagaimana bisa aku takut dengan kucing yang gemuk. "Kau kelewat penakut", simpulmu akhirnya dengan memaksa senyum.

Barangkali itu pula sebabnya kau pergi.
Supaya aku bisa belajar untuk tidak takut lagi.

Kamis, 31 Juli 2014

Fireflies

If there was never any darkness, we would never see the fireflies  
=)

Suatu Pagi, di Akhir Juli

Langitku pasti runtuh.
Mungkin besok. Mungkin Lusa. Mungkin Minggu Depan. Mungkin bulan depan.
Dan aku masih di bawahnya untuk sekedar menyesap buih-buih kenangan.

Dan sungguh sudah kurencanakan dengan sebaik-baiknya bahwa ketika langitku runtuh, harusnya aku sudah tidak ada lagi di bawahnya. Harusnya aku sudah tidak lagi mengaguminya.Harusnya aku sudah nyaman berdiam di bawah langit lain yang juga penuh hijau dan biru, dengan sedikit jingga, dan sedikit merah muda.
Tapi tahukah?
Di luar sana tidak ada langit yang cukup hanya hijau dan biru. Mereka abu-abu, ungu, merah, coklat masam, dan apapun yang tidak bisa aku jadi latar belakangnya.
Maka inilah mengapa aku tetap di bawah langitku, yang sebentar lagi runtuh. Menikmati serat-serat hijau dan birunya dari jauh. Dengan sedikit kopi, sedikit buku, sedikit film, sedikit koneksi internet, dan banyak dialog dengan Tuhan ku.

Langitku pasti runtuh.
Mungkin besok. Mungkin Lusa. Mungkin Minggu Depan. Mungkin bulan depan.
Dan aku masih menunggu untuk diselamatkan.

Selasa, 08 April 2014

Beberapa anak kecil tidak enggan untuk berbagi mainan.
Beberapa orang dewasa tidak sungkan untuk mempermainkan.
Sederhananya, ternyata digit umur tidak selalu berhasil mengajarkan bagaimana cara memperlakukan orang lain dengan pantas. 

Minggu, 23 Maret 2014

Paradoks Aku

Kepada Aku yang Serba Kamu,


Wahai Kau, Aku yang Serba Kamu, tahukah?

Sungguh rindu Aku pada Aku yang menjadi pendamba tentramnya cangkangku. Pada aku yang berselimut hangat, menyesap secangkir kopi pekat, melihat keluar jendela lekat lekat, sambil tak hentinya bersyukur karena Aku aman dari sekelebat mendung berhias kilat di luar sana.

Rindu pada Aku yang berpuisi. Mengolah rasa untuk menepikan logika. mengacak diksi untuk memerangkap fiksi yang kuciptakan sendiri.

Rindu pada Aku yang menulis sederet daftar ambisi. Menyusun strategi, merencanakan kompetisi. Melamunkan rangkaian pidato kemenangan sesekali.

Rindu pada Aku yang tidak mau tahu tentang sudah berapa banyak pelangi yang kulewati. Pada Aku yang tidak peduli bagaimana menyenangkannya bermain dengan semesta. Pada Aku yang tak jengah untuk hanya menatap dari jendela. Pada Aku yang tidak ikut-ikutan mendamba hamparan pasir, gulungan ombak, apalagi makhluk laut yang aneh-aneh.

Aku rindu pada Aku yang tidak aneh.

Karena, Wahai Aku yang Serba Kamu, terasa tidak?
Semenjak tidak ada lagi Kamu yang Menyerba-kamu-kan Aku, jadi membosankan cangkangku, tumpul diksiku, mati ambisiku. Jadi mesti dengan caramu Aku yang Serba Kamu ini bisa menebus selengkung senyum. Padahal tahu betul Aku bahwa harus bersegera Aku untuk berhenti menjadi serba Kamu karena tak akan sudi pula Kamu jika yang jadi serba Kamu itu Aku.
Maka, Wahai Aku yang Serba Kamu, mohon kembalikan ke-aku-an-ku.

Dari Aku yang Benar-Benar Aku

Selasa, 18 Maret 2014

Pernah tidak, kamu merasa tidak diprioritaskan oleh orang yang kamu prioritaskan?
Saya pernah. Baru saja.
Rasanya pahit. Pahit dan melelahkan.
Lelah sampai-sampai untuk mencari sebungkus permen untuk mengobatinya pun saya malas. Kemudian bahkan saya mulai ragu, kapan bisa kembali siap untuk berharap.
(Tulisan di diary digital saya, tertanggal 24 Februari 2014. Kamu ingat kenapa?)

Minggu, 16 Maret 2014

Apa bagian terburuk dari merasa kesepian?
Bahwa kamu pernah minta ditemani, namun diabaikan.
:)

Kamis, 13 Maret 2014

Perihal Menikah

Memutuskan menikah itu tentang memutuskan dengan siapa kamu rela berbagi es krim, kopi, selimut, dan semua hal yang kamu senangi, untuk seumur hidupmu. Juga tentang memutuskan dengan siapa kamu percayakan pembagian tugas untuk memelihara orang tua dan saudara saudarimu di hari tua mereka. Kemudian tentang dengan siapa kamu rela berbagi jam tidur untuk menimang bayi-bayi kecilmu nanti saat mereka tiba-tiba histeris di malam hari.
Dengan siapa kamu menyesap kopi kental di tepi jendela sambil menikmati merahnya langit sore.
Dengan siapa kamu menghitung rintik hujan sambil menghirup aroma rumput yang baru dipangkas di halaman depan.
Dengan siapa kamu berbagi selimut hangat kesayanganmu sambil memetakan benda-benda langit yang muncul tiap malam dengan wajah yang tidak pernah sama dan kamu selalu bingung karenanya.
Dangkal ya?
Iya.
Bagi saya, memutuskan menikah itu tentang memutuskan dengan siapa, 
lalu kapan.
Bukan kapan, lalu dengan siapa.

Kamis, 09 Januari 2014

Menunggu Mendung

Bagaimana jika Saya mulai kelelahan?
Saya akan kembali ke cangkang, mengamati mendung pekat yang tak kunjung usai.
Kemudian saya sesap secangkir kopi kental tanpa gula. Hanya supaya Saya sedikit bersyukur bahwasannya Saya tidak sepahit yang Saya keluh-keluhkan itu. Buktinya masih bisa mentranslasikan kopi tanpa gula itu pahit, bukan?
Lalu Saya ambil segenggam remah roti manis. Hanya supaya Saya sedikit bersyukur bahwasannya Saya tidak sesial yang Saya keluh-keluhkan itu. Buktinya masih bisa mendapat yang manis-manis seperti roti itu, bukan?
Jika langit masih juga mendung, Saya tinggal untuk beberapa saat lagi di cangkang. Untuk mengobati gores-gores kecil di punggung yang Saya rasakan sakitnya, namun terlalu abai pula Saya untuk tahu pasti keberadaanya.
Dan jika Saya mulai kesepian, Saya akan mulai bernyanyi. Terus. Sampai yakin setan-setan telah pergi. Teman?
Jangan. Jangan pernah mengajak siapapun ke cangkangmu. Cangkangmu itu tempat tinggal. Bukan untuk lalu lalang orang yang sekedar ingin mampir.
Bila langit tak kunjung cerah, berdoa sajalah supaya turun hujan. Toh habis hujan akan ada pelangi. Karena sesungguhnya mendung itu membingungkan. Mendung itu abu-abu.
Mendung itu Kamu.

Toples Hati Parman

Parman mencuri berlian, lalu ke toko mainan.
Beli apa?
Beli hati.
Setoples, untuk kemudian dibagi-bagi. Dibagi pada Ratna, Leli, Wanda, Neni, Vina, Misyel, blablabla
Dibagi tanpa pernah diminta lagi.Dermawan benar Si Parman ini, ya? Iya.

Sekarang Ratna punya dua hati. Leli juga begitu. Wanda, Neni, Vina, Misyel, blablabla juga begitu.
Parman?
Nol. Parman kehabisan hati.
Ia berteriak kencang-kencang. Menangis. Meraung minta hati.
Siapa Peduli?
Ada.
Tati.
Cuma Tati.

Dipinjamkan Tati hatinya yang cuma satu-satunya itu.
Pagi-pagi dibawa Parman ke kantor. Buat mainan jika penat Ia dengan kertas kerja. Digunting-guntingnya untuk kemudian disatukannya lagi. Hati Tati kusut. Amburadul.
Malamnya hati Tati dikembalikan agar bisa dijahit, dicuci, dan disetrika supaya tetap pantas untuk dimainkan besok.
Begitu tiap hari.

Kemudian Parman kaya raya, hasil kerja 12 bulan. Balik lagi Ia ke toko mainan.
Beli apa?
Beli hati.
Setoples, untuk kemudian dibagi-bagi. Dibagi pada Nensi, Siska, Gebi, Meisye, Tasya, Monita, blablabla, blablabla, dan
Tati.
Tati protes. "Bukan! Ini bukan hatiku! Kau kemanakan punyaku, Sayang?"
"Entahlah. Mungkinkah yang itu?", Parman menunjuk sepotong hati compang-camping yang dibuangnya ke jalan tadi pagi, yang sekarang sedang diperebutkan dua ekor anjing.
Digigit, ditarik, disepak sampai buyar. Hambur di udara.

Sekarang Nensi, Siska, Gebi, Meisye, Tasya, Monita, blablabla, blablabla punya dua hati.
Parman punya setengah toples.
Tati?
Nol. Tati kehabisan hati.
Ia berteriak kencang-kencang. Menangis. Meraung minta hati.
Siapa peduli?