Fiksi dari Masa Kecil
Apa yang berbeda dari masa sekarang dengan masa kecilku? Tetap ada boneka, kartu, congklak, bekel, dan permainan yang sejenisnya itu. Beberapa permainan seperti bepean atau benteng memang sudah tidak ada lagi sih. Eh iya, main Ayah-Bundaannya juga tidak lagi. Diantar jemput? Masih. Disuapi? Kadang-kadang. Dimandikan? Nah, itu juga tidak lagi. Yang jelas berbeda dari masa kecil dulu adalah sekarang aku tidak akan pernah lagi bertemu dengan pekerjaan rumah yang bisa selesai dalam sepuluh menit.
Oh ya, ada lagi. Mengenai jam tidurku. Waktu kecil aku bisa tidur hanya tiga jam sehari tanpa cemas akan tumbuh jerawat yang nyeri esok harinya. Jadi, dulu di kamarku dipasang lampu tidur warna hijau muda. Sekitar tengah malam, kira-kira TV di ruang tengah sudah mati, aku akan bangun dan mulai menulis. Pertama aku akan menulis jurnalku, menceritakan secara rinci kejadian-kejadian pada setiap harinya, lalu dilanjutkan dengan menulis beberapa khayalanku dalam sebuah plot yang tertata. Begitu setiap malamnya. Aku larut dalam fiksi sampai Venus hampir pulang. Aku besar dalam fiksi.
Hm, aku suka bercerita. Aku punya banyak cerita. Aku jadi ingin bercerita sekarang.
Suatu sore, aku menunggu di pelataran sekolah yang letaknya sekitar 1300 Km dari sini. Bisa menebak dimana itu? Waktu itu hujan deras. Teman-temanku pulang dengan riang bermandikan hujan, berkejar-kejaran tanpa peduli petir yang terus menyambar. Aku sedang tidak sehat badan hari itu. Jadi aku minta Papa menjemput. Tidak tahu kenapa, hari itu Papa lama sekali. Aku mulai resah. Kuambil buku cetak Matematika dari tas dan mencoba sibuk dengan beberapa soal.
Tiba-tiba dua orang anak kecil datang. Mereka tampak luar biasa, secara fisik maksudku. Yang perempuan rambutnya ikal dikuncir satu, yang laki-laki rambutnya sedikit lebih lurus dan berponi. Dua-duanya putih bersih, dengan pipi gempal dan merona, mata lebar berpendar, dan senyum merekah.
“Aku Ridho”
“Aku Sherly”
“Kami adalah anak Mama dari masa depan”
Aku diam. Kedua anak itu saling melirik, lalu tertawa kecil. Yang perempuan memegang tangan kananku.
“Mama, berjanjilah, Mama nanti akan jadi dokter hewan supaya kami tetap bisa bermain dengan hewan-hewan lucu saat kami kembali ke masa depan. Mama harus merawat banyak hewan dan berusaha keras supaya mereka tidak mati. Aku mau di kota kita nanti tetap banyak burung berkicau di pagi hari dan kupu-kupu berwarna mampir di jendela pada siang hari. Mungkinkah kunang-kunang bisa tinggal di tengah kota pada malam hari, Ma? Seperti yang sering kita lihat di danau dekat rumah Nenek”.
“Atau paling tidak jadilah penulis cerita anak, Ma. Seperti Tuan Anderson. Supaya bukan cuma kami yang tahu tentang Putri Lobak, Raja Petruk, Pak Pandir, dan Si Mata Empat. Supaya setiap malam tetap banyak dongeng pengantar tidur yang diperdengarkan waktu kami kembali ke masa depan. Bagaimana, Ma?”
Aku diam. Aku mencerna mereka dengan lambat, memilah-milah ekspresi dengan sangat lambat, dan menentukan respon dengan amat sangat lambat.
Kedua anak tadi kembali saling lirik, lalu tertawa kecil. Yang perempuan melepaskan genggamannya dari tangan kananku, dengan cepat mengambil sesuatu dari kantong baju yang laki-laki yang perkiraanku itu sebungkus permen, lalu berlari membaur dengan hujan sore itu. Yang laki-laki sontak mengejarnya sambil tertawa riang. Mereka membaur dalam tirai hujan dan tawa riang. Aku masih diam sambil sesekali melirik rok merahku untuk sekedar memastikan bahwa hari itu aku memang masih sekolah dasar.
Ps: Untuk Ridho dan Sherly, mudah-mudahan kalian tidak kecewa kalau nanti mendapati Mama masa depan kalian bukan dokter hewan atau penulis cerita anak. Mudah-mudahan walapupun Mama masa depan kalian akuntan, insinyur, atau dokter bedah, ia tetap bisa mendongeng. Mudah-mudahan Papa masa depan kalian juga tidak keberatan untuk memelihara banyak hewan di rumah. Jadi, mudah-mudahan di masa depan nanti tetap banyak hewan lucu yang bisa dijadikan teman main dan dongeng pengantar tidur yang diperdengarkan. Aamiin, mudah-mudahan, ya.