Bagaimana jika Saya mulai kelelahan?
Saya akan kembali ke cangkang, mengamati mendung pekat yang tak kunjung usai.
Kemudian saya sesap secangkir kopi kental tanpa gula. Hanya supaya Saya sedikit bersyukur bahwasannya Saya tidak sepahit yang Saya keluh-keluhkan itu. Buktinya masih bisa mentranslasikan kopi tanpa gula itu pahit, bukan?
Lalu Saya ambil segenggam remah roti manis. Hanya supaya Saya sedikit bersyukur bahwasannya Saya tidak sesial yang Saya keluh-keluhkan itu. Buktinya masih bisa mendapat yang manis-manis seperti roti itu, bukan?
Jika langit masih juga mendung, Saya tinggal untuk beberapa saat lagi di cangkang. Untuk mengobati gores-gores kecil di punggung yang Saya rasakan sakitnya, namun terlalu abai pula Saya untuk tahu pasti keberadaanya.
Dan jika Saya mulai kesepian, Saya akan mulai bernyanyi. Terus. Sampai yakin setan-setan telah pergi. Teman?
Jangan. Jangan pernah mengajak siapapun ke cangkangmu. Cangkangmu itu tempat tinggal. Bukan untuk lalu lalang orang yang sekedar ingin mampir.
Bila langit tak kunjung cerah, berdoa sajalah supaya turun hujan. Toh habis hujan akan ada pelangi. Karena sesungguhnya mendung itu membingungkan. Mendung itu abu-abu.
Mendung itu Kamu.
Kamis, 09 Januari 2014
Toples Hati Parman
Parman mencuri berlian, lalu ke toko mainan.
Beli apa?
Beli hati.
Setoples, untuk kemudian dibagi-bagi. Dibagi pada Ratna, Leli, Wanda, Neni, Vina, Misyel, blablabla
Dibagi tanpa pernah diminta lagi.Dermawan benar Si Parman ini, ya? Iya.
Sekarang Ratna punya dua hati. Leli juga begitu. Wanda, Neni, Vina, Misyel, blablabla juga begitu.
Parman?
Nol. Parman kehabisan hati.
Ia berteriak kencang-kencang. Menangis. Meraung minta hati.
Siapa Peduli?
Ada.
Tati.
Cuma Tati.
Dipinjamkan Tati hatinya yang cuma satu-satunya itu.
Pagi-pagi dibawa Parman ke kantor. Buat mainan jika penat Ia dengan kertas kerja. Digunting-guntingnya untuk kemudian disatukannya lagi. Hati Tati kusut. Amburadul.
Malamnya hati Tati dikembalikan agar bisa dijahit, dicuci, dan disetrika supaya tetap pantas untuk dimainkan besok.
Begitu tiap hari.
Kemudian Parman kaya raya, hasil kerja 12 bulan. Balik lagi Ia ke toko mainan.
Beli apa?
Beli hati.
Setoples, untuk kemudian dibagi-bagi. Dibagi pada Nensi, Siska, Gebi, Meisye, Tasya, Monita, blablabla, blablabla, dan
Tati.
Tati protes. "Bukan! Ini bukan hatiku! Kau kemanakan punyaku, Sayang?"
"Entahlah. Mungkinkah yang itu?", Parman menunjuk sepotong hati compang-camping yang dibuangnya ke jalan tadi pagi, yang sekarang sedang diperebutkan dua ekor anjing.
Digigit, ditarik, disepak sampai buyar. Hambur di udara.
Sekarang Nensi, Siska, Gebi, Meisye, Tasya, Monita, blablabla, blablabla punya dua hati.
Parman punya setengah toples.
Tati?
Nol. Tati kehabisan hati.
Ia berteriak kencang-kencang. Menangis. Meraung minta hati.
Siapa peduli?
Beli apa?
Beli hati.
Setoples, untuk kemudian dibagi-bagi. Dibagi pada Ratna, Leli, Wanda, Neni, Vina, Misyel, blablabla
Dibagi tanpa pernah diminta lagi.Dermawan benar Si Parman ini, ya? Iya.
Sekarang Ratna punya dua hati. Leli juga begitu. Wanda, Neni, Vina, Misyel, blablabla juga begitu.
Parman?
Nol. Parman kehabisan hati.
Ia berteriak kencang-kencang. Menangis. Meraung minta hati.
Siapa Peduli?
Ada.
Tati.
Cuma Tati.
Dipinjamkan Tati hatinya yang cuma satu-satunya itu.
Pagi-pagi dibawa Parman ke kantor. Buat mainan jika penat Ia dengan kertas kerja. Digunting-guntingnya untuk kemudian disatukannya lagi. Hati Tati kusut. Amburadul.
Malamnya hati Tati dikembalikan agar bisa dijahit, dicuci, dan disetrika supaya tetap pantas untuk dimainkan besok.
Begitu tiap hari.
Kemudian Parman kaya raya, hasil kerja 12 bulan. Balik lagi Ia ke toko mainan.
Beli apa?
Beli hati.
Setoples, untuk kemudian dibagi-bagi. Dibagi pada Nensi, Siska, Gebi, Meisye, Tasya, Monita, blablabla, blablabla, dan
Tati.
Tati protes. "Bukan! Ini bukan hatiku! Kau kemanakan punyaku, Sayang?"
"Entahlah. Mungkinkah yang itu?", Parman menunjuk sepotong hati compang-camping yang dibuangnya ke jalan tadi pagi, yang sekarang sedang diperebutkan dua ekor anjing.
Digigit, ditarik, disepak sampai buyar. Hambur di udara.
Sekarang Nensi, Siska, Gebi, Meisye, Tasya, Monita, blablabla, blablabla punya dua hati.
Parman punya setengah toples.
Tati?
Nol. Tati kehabisan hati.
Ia berteriak kencang-kencang. Menangis. Meraung minta hati.
Siapa peduli?
Langganan:
Postingan (Atom)