Langitku pasti runtuh.
Mungkin besok. Mungkin Lusa. Mungkin Minggu Depan. Mungkin bulan depan.
Dan aku masih di bawahnya untuk sekedar menyesap buih-buih kenangan.
Dan sungguh sudah kurencanakan dengan sebaik-baiknya bahwa ketika langitku runtuh, harusnya aku sudah tidak ada lagi di bawahnya. Harusnya aku sudah tidak lagi mengaguminya.Harusnya aku sudah nyaman berdiam di bawah langit lain yang juga penuh hijau dan biru, dengan sedikit jingga, dan sedikit merah muda.
Tapi tahukah?
Di luar sana tidak ada langit yang cukup hanya hijau dan biru. Mereka abu-abu, ungu, merah, coklat masam, dan apapun yang tidak bisa aku jadi latar belakangnya.
Maka inilah mengapa aku tetap di bawah langitku, yang sebentar lagi runtuh. Menikmati serat-serat hijau dan birunya dari jauh. Dengan sedikit kopi, sedikit buku, sedikit film, sedikit koneksi internet, dan banyak dialog dengan Tuhan ku.
Langitku pasti runtuh.
Mungkin besok. Mungkin Lusa. Mungkin Minggu Depan. Mungkin bulan depan.
Dan aku masih menunggu untuk diselamatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar