Selasa, 04 Juni 2013

Aku, Surat Cinta, dan Kamu dari Masa depan

 1 Februari 2012
Dear Amy,
Jadi inilah surat cinta pertama kita. Bagaimana kalau diawali dengan perkenalan singkat? Aku Jack. Aku jodohmu dari masa depan. Sejak pertama menghirup oksigen di dunia yang sempit ini, aku sudah tahu kalau kita berjodoh. Percayalah.
Ah, mungkin Kau mulai berpikir kalau Aku ini penggemar beratmu. Sejenis maniak begitu, ya? Mungkin ada benarnya, di bagian Aku menggemarimu. Aku menggemari diriku sendiri tepatnya, dan setiap detail yang membangun Aku. Termasuk lah tulang rusukku, Kau.
Baiklah, cukup dulu. Besar harapanku bahwa Kau membacanya tidak dengan tangan yang gemetaran, melainkan dengan lima sentimeter senyum gulamu itu dan beberapa debaran. Oh ya, Aku akan rajin menyuratimu. Mohon jangan keberatan.
Jack, jodoh masa depanmu.

Ini kali keempat kubaca lembaran merah muda yang mampir di kotak surat pagi tadi. Surat ini dibungkus amplop berwarna sama dengan gradasi sedikit lebih tajam. Aroma black rose tergesa-gesa masuk ke saluran napasku saat pertama amplop dibuka. Ia menyemprotkan surat ini dengan parfum yang terasa familiar. Parfumku. Benarkah?
Dibelakang amplop tertulis sebuah alamat. Aku tidak begitu mengenalinya kecuali bagian kota yang kalau tidak salah enam jam dari sini. Tidak terlalu jauh. Akan Kau jemputkah Aku suatu hari nanti, wahai jodoh masa depan?


19 Juli 2012
“Amy? Amy? Ayo, cepat bangun. Kau harus lihat ini”, kudengar suara Mama di sela-sela mimpi fajarku. Mama menyeretku dengan sigap menuju teras depan. Ada yang berbeda dengan bagian depan rumahku hari ini. Semacam terbungkus dengan gelombang merah tua. Aku belum begitu sadar. Namun angin pagi ini dinginnya makin menguliti, dan dengan mencuri-curi, mampir ke indra penciumku mengantar aroma black rose yang familiar. Kesadaranku meningkat.
Mereka adalah segerombolan mawar merah tua. Yang kelopaknya merekah, aromanya semerbak megah. Entah jumlahnya berapa, yang jelas cukup untuk menyelimuti teras, rerumputan, sampai ke tepi pagar. Aku masih terperangah saat Mama mengambil lembaran merah muda tidak jauh dari tempat kami berdiri.
“Selamat ulang tahun, Amy. Semoga senang”.
Mama menatapku lekat-lekat. Wajahku masih datar, kata-kataku masih beku, namun hatiku sudah girang bukan kepalang. Ya, Aku senang. Oh, Jack, berapa banyak mawar di taman kota yang Kau petik?


1 November 2012
Dear Amy,
Hujan semakin gila saja. Rerumputan di depan rumahku tidak pernah kering. Lumut dengan tanpa malu mencumbu lekat kulit pohon, mencoba berbiak dengannya. Bah! Kau tahu, Amy, bahkan aku terpeleset karenanya. Terpeleset dari pohon setinggi hampir tiga meter! Itu benar-benar nyaris. Tidak ada yang menduga Aku bisa kembali sebugar sekarang setelah kejadian itu.
Hey, bagaimana kalau Kau menyuratiku sesekali? Menyuratiku untuk menceritakan lebih banyak tentangmu yang sulit untuk aku cari tahu. Seperti makanan, warna, film, buku, atau apapun yang paling Kau senangi. Aku hanya tidak sabar untuk lebih mengenal jodoh masa depanku. Harap maklum.
Jack, jodoh masa depanmu.

Dua jam yang lalu, aku kegirangan saat pertama mendapati bahwa ia ingin aku membalas suratnya, pada suratnya yang ke-11. Sekarang aku kacau balau, mematung di hadapan beberapa gumpal kertas yang seharusnya sudah menjadi selembar surat cinta balasan. Entahlah, Jack. Aku tidak pernah menulis surat cinta. Padahal aku tidak perlu berpuisi juga kan? Sekedar menceritakan bahwa aku penggemar pie anggur, biru tosca, The Artist, dan apapun yang pernah Kau sebut sebagai bagian dari kesenanganmu.
Pernah makan pie anggur, Jack? Bukankah itu jarang tersedia untuk dijual? Aku bisa membuatkannya untukmu. Mungkin sebagai hadiah ulang tahun. Kapan ulang tahunmu, Jack? Ah, mudah-mudahan belum lewat.


20 Desember 2012
Dear Amy,
Aku kian sekarat. Mungkin akan lebih baik kalau Kau datang menjengukku. Oh ya, Kau belum melewatkan ulang tahunku. Datanglah kerumahku, pada akhir tahun ini, pada ulang tahunku. Ibu akan menjahitkanmu sweater biru tosca. Kalau tidak repot, bawakan kami pie anggur buatanmu itu, ya. Maaf tidak bisa panjang lebar. Senang bisa menyuratimu sepanjang tahun. Tahun ini akan jadi begitu sakral bagi kita di masa depan.
Jack, jodoh masa depanmu.

Aku termenung. Mengingat-ingat kejadian 20 hari yang lalu. Tentang apa yang kulakukan setelah mengarang selembar surat cinta untuk jodoh masa depanku ini. Kukirimkan kah? Tidak. Aku yakin benar, tidak. Surat itu berakhir menggumpal, bergulir bulat-bulat di tempat sampah. Bagaimana Kau bisa tahu isinya, Jack?

***
Pikiranku berkelana sepanjang perjalanan. Melepas angan pada tiap rintik hujan yang mampir di jendela. Ini adalah hari terakhir di tahun pertama aku mendapat surat cinta dari jodoh masa depanku. Aku menyimpan semuanya. Aku turun di sebuah halte setelah lima jam menyusuri jalanan licin, kemudian mulai berjalan dengan langkah panjang pada lorong sempit yang dihimpit pagar hijau dari rumah-rumah di kiri-kanannya . Hujan turun pelan-pelan. Membasahi ubun-ubun, kemudian turun ke kuduk. Ada sekotak pie anggur yang hangat dalam pelukku. Sebisa mungkin aku melindunginya dari bumi yang kotor oleh air kubang dan langit yang kotor oleh awan legam.
 Langkahku berhenti pada sebuah alamat. Pada sebuah rumah sederhana yang dikerubungi pekarangan hijau yang cukup luas. Beberapa pohon tinggi tumbuh membayanginya. Pandanganku berhenti pada salah satu diantaranya, pada yang berdiri rumah pohon di pucuknya. Kapan-kapan kita harus duduk disana, Jack. Menyaksikan mawar dari taman kota atau sekedar mencaci hujan yang berani hadir hanya jika bergerombol.
Pelan-pelan Aku menuju ke pintu depan. Sepatuku meninggalkan jejak kecoklatan pada lantai teras depan yang berwarna kuning muda. Aku memencet bel, mengatur posisi berdiri, menata senyum supaya tetap lima sentimeter. Semenit kemudian, seorang wanita paruh baya berdiri di hadapanku. Rambutnya digulung rapi ke belakang. Kulitnya terlalu pucat dan ada lingkar hitam di kedua kantung matanya.
“Kediaman Jack? Aku Amy, teman penanya”, kataku mengulurkan tangan, masih dengan senyum paling ramah. Wanita itu menyambut tanganku dengan pandangan matanya yang tidak bergerak, menangkap sepasang bola mataku lekat-lekat. “Masuklah, Amy”, kemudian katanya, nada suaranya ramah, walaupun tidak dengan mimik wajahnya.
Aku menghela napas pelan-pelan. Rumah ini terasa  lembab dan pengap, mungkin juga karena langit-langitnya yang rendah. “Aku bawakan pie anggur, buatanku sendiri”, kucoba memulai percakapan. Wanita itu mengambil sekotak pie yang kutawarkan dan menaruhnya di meja, “Terima kasih. Ini luar biasa”, kemudian katanya ramah dan berjalan lebih cepat untuk mendahuluiku, menuntunku pada sebuah ruangan.
Ruangan itu berdinding hitam. Ada kertas dinding bermotif mobil-mobilan membungkus salah satu sisi dindingnya. Tepat di depan kami ada sebuah jendela yang cukup besar. Di bawahnya ada meja yang memuat koleksi robot dan sepeda ontel.
Aku melirik ke sebelahku. Seseorang tampak tertidur pulas disana. Tidur yang sangat pulas dengan mata yang terkunci rapat. Di sekitar sepasang mata itu ada lingkar hitam yang membuatnya tampak sangat tidak sehat. Kulitnya juga kering dan pucat. Entahlah. Ia terlalu tenang untuk sekedar tidur. Kukira ia koma. Ia sangat tua. Mungkin hampir di penghujung usianya Itu membuatnya tampak berkali-kali lebih menderita.
Wanita yang menuntutunku ke ruangan itu kemudian mendekat padanya, pada telinganya. “Bangunlah, Jack. Jodohmu sudah datang”.
Aku terkesiap. Lelaki tua itu mendadak membuka mata, mencoba sekuat tenaga untuk menghela beberapa butir oksigen yang lewat, mengumpulkan energi untuk sekedar menggenggam lemah jemari tangan kananku. "Ayo pulang, Amy", suaranya serak.
Seketika jemariku mengeriput. Kemudian tanganku, kemudian sekujur tubuhku. Kami pulang ke masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar