Aku adalah malam dengan sejuta bintang
karena Aku perempuan
Aku adalah yang hangat walau bermandikan
hujan karena Aku perempuan
Aku bukan daun yang gugur terhempas ke tanah karena Aku perempuan
(Hus,
tak cocoklah perempuan berpuisi! Balik ke dapur sana, tanak nasi!)
Aku lahir
untuk merayu
Rayu yang dengan sedikit racun dan banyak candu
Keberatan?
Aku bukan perempuan dulu yang rambutnya rapi terkepang
Tapi juga bukan jalang yang kerjanya melenggang
Sekedar jengah terkungkung di dapur
Jerang kopi, tumis sawi, goreng cumi
Keberatan?
(Bah,
berpuisi lagi? Balik ke dapur sana, tanak nasi!)
Aku tidak bermimpi tinggi-tinggi
Cukuplah punya uang sepundi untuk
Beli pupur, beli celak, beli pemerah pipi
Becantik berias
sambil semprot wewangian sana-sini
Supaya tak berat Kau belikan kalung emas,
gelang emas, giwang emas
Jika kupinta dengan rengek nanti
Keberatan?
(Hei!
Kemanalah otakmu ini? Balik ke dapur sana, tanak na-si!)
Aku adalah malam dengan sejuta bintang
karena Aku perempuan
Aku adalah yang hangat walau bermandikan
hujan karena Aku perempuan
Aku bukan daun yang gugur terhempas ke tanah karena Aku perempuan
Aku menanak nasi di pagi hari, di siang hari,
di malam hari karena
Aku perempuan.
puisinya bagsu... masuk banget, apalagi aku juga seorang perempuan :D
BalasHapussalam kenal :)
Hei! Aku suka tulisan-tulisannya. Sayangnya tak ada tombol follow blog?
BalasHapusSalam kenal :)
makasih ade uny, aprie janti :) salam kenal juga :))
BalasHapusmasih baru di blog. mohon bimbingannya :)