Bagaimana jika Saya mulai kelelahan?
Saya akan kembali ke cangkang, mengamati mendung pekat yang tak kunjung usai.
Kemudian saya sesap secangkir kopi kental tanpa gula. Hanya supaya Saya sedikit bersyukur bahwasannya Saya tidak sepahit yang Saya keluh-keluhkan itu. Buktinya masih bisa mentranslasikan kopi tanpa gula itu pahit, bukan?
Lalu Saya ambil segenggam remah roti manis. Hanya supaya Saya sedikit bersyukur bahwasannya Saya tidak sesial yang Saya keluh-keluhkan itu. Buktinya masih bisa mendapat yang manis-manis seperti roti itu, bukan?
Jika langit masih juga mendung, Saya tinggal untuk beberapa saat lagi di cangkang. Untuk mengobati gores-gores kecil di punggung yang Saya rasakan sakitnya, namun terlalu abai pula Saya untuk tahu pasti keberadaanya.
Dan jika Saya mulai kesepian, Saya akan mulai bernyanyi. Terus. Sampai yakin setan-setan telah pergi. Teman?
Jangan. Jangan pernah mengajak siapapun ke cangkangmu. Cangkangmu itu tempat tinggal. Bukan untuk lalu lalang orang yang sekedar ingin mampir.
Bila langit tak kunjung cerah, berdoa sajalah supaya turun hujan. Toh habis hujan akan ada pelangi. Karena sesungguhnya mendung itu membingungkan. Mendung itu abu-abu.
Mendung itu Kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar