Parman mencuri berlian, lalu ke toko mainan.
Beli apa?
Beli hati.
Setoples, untuk kemudian dibagi-bagi. Dibagi pada Ratna, Leli, Wanda, Neni, Vina, Misyel, blablabla
Dibagi tanpa pernah diminta lagi.Dermawan benar Si Parman ini, ya? Iya.
Sekarang Ratna punya dua hati. Leli juga begitu. Wanda, Neni, Vina, Misyel, blablabla juga begitu.
Parman?
Nol. Parman kehabisan hati.
Ia berteriak kencang-kencang. Menangis. Meraung minta hati.
Siapa Peduli?
Ada.
Tati.
Cuma Tati.
Dipinjamkan Tati hatinya yang cuma satu-satunya itu.
Pagi-pagi dibawa Parman ke kantor. Buat mainan jika penat Ia dengan kertas kerja. Digunting-guntingnya untuk kemudian disatukannya lagi. Hati Tati kusut. Amburadul.
Malamnya hati Tati dikembalikan agar bisa dijahit, dicuci, dan disetrika supaya tetap pantas untuk dimainkan besok.
Begitu tiap hari.
Kemudian Parman kaya raya, hasil kerja 12 bulan. Balik lagi Ia ke toko mainan.
Beli apa?
Beli hati.
Setoples, untuk kemudian dibagi-bagi. Dibagi pada Nensi, Siska, Gebi, Meisye, Tasya, Monita, blablabla, blablabla, dan
Tati.
Tati protes. "Bukan! Ini bukan hatiku! Kau kemanakan punyaku, Sayang?"
"Entahlah. Mungkinkah yang itu?", Parman menunjuk sepotong hati compang-camping yang dibuangnya ke jalan tadi pagi, yang sekarang sedang diperebutkan dua ekor anjing.
Digigit, ditarik, disepak sampai buyar. Hambur di udara.
Sekarang Nensi, Siska, Gebi, Meisye, Tasya, Monita, blablabla, blablabla punya dua hati.
Parman punya setengah toples.
Tati?
Nol. Tati kehabisan hati.
Ia berteriak kencang-kencang. Menangis. Meraung minta hati.
Siapa peduli?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar