Selasa, 08 Januari 2013

Hakikat Si Kupu-Kupu


Kau bukan ulat bulu sembarangan. Entah darimana teori itu, tiba-tiba yang Aku tahu, Aku merasa tahu. Saat Kau jadi kupu-kupu, akan ada sepotong senja yang kian menjingga di sayap lebarmu. Oleh karenanya kubisikkan doa yang syahdu untukmu Wahai Si Ulat Bulu, pada tiap bintang fajar yang timbul, sampai ia menghilang di pagi-paginya. Harapku agar cepat Kau jadi kupu-kupu, agar mudah Kau terbang ke kelopakku yang sungguh merona katamu (dulu). Ah, dasar Kau perayu. Atau jangan-jangan hanya Aku yang mudah dimabuk karena tak biasa dirayu?

Harap yang kelewat besar ini rupanya membuatku lupa akan hakikatnya Si Kupu-Kupu. Pada hakikatnya yang hidup untuk mencari madu, dan oleh karena itulah ia terbiasa memadu. Pada hakikatnya yang terbiasa terbang dari satu bunga ke bunga yang lain tanpa peduli apa yang ditinggalkannya dalam jejak pada tiap kelopak yang pernah dihampirinya itu.

Bagaimana jika kuminta kembalikan lagi maduku? Bagaimana jika kudoakan agar kembali lagi Kau jadi Si Ulat Bulu?

Duh, masih tetap dangkal benar pikiranku ini. Padahal paling-paling besok sudah layu terkubur, gugur, jatuh ke lumpur, dirayu angin,diserbu dingin. Mati.

Ya sudah.
Wahai Kupu-kupu, pada kejora malam ini, kutitipkan salam untukmu. Isinya masih seperti yang sering Kau dengar dulu, tentang pujaku atas pesonamu.


2 komentar: