Kepada Aku yang Serba Kamu,
Wahai Kau, Aku yang Serba Kamu, tahukah?
Sungguh rindu Aku pada Aku yang menjadi pendamba tentramnya cangkangku. Pada aku yang berselimut hangat, menyesap secangkir kopi pekat, melihat keluar jendela lekat lekat, sambil tak hentinya bersyukur karena Aku aman dari sekelebat mendung berhias kilat di luar sana.
Rindu pada Aku yang berpuisi. Mengolah rasa untuk menepikan logika. mengacak diksi untuk memerangkap fiksi yang kuciptakan sendiri.
Rindu pada Aku yang menulis sederet daftar ambisi. Menyusun strategi, merencanakan kompetisi. Melamunkan rangkaian pidato kemenangan sesekali.
Rindu pada Aku yang tidak mau tahu tentang sudah berapa banyak pelangi yang kulewati. Pada Aku yang tidak peduli bagaimana menyenangkannya bermain dengan semesta. Pada Aku yang tak jengah untuk hanya menatap dari jendela. Pada Aku yang tidak ikut-ikutan mendamba hamparan pasir, gulungan ombak, apalagi makhluk laut yang aneh-aneh.
Aku rindu pada Aku yang tidak aneh.
Karena, Wahai Aku yang Serba Kamu, terasa tidak?
Semenjak tidak ada lagi Kamu yang Menyerba-kamu-kan Aku, jadi membosankan cangkangku, tumpul diksiku, mati ambisiku. Jadi mesti dengan caramu Aku yang Serba Kamu ini bisa menebus selengkung senyum. Padahal tahu betul Aku bahwa harus bersegera Aku untuk berhenti menjadi serba Kamu karena tak akan sudi pula Kamu jika yang jadi serba Kamu itu Aku.
Maka, Wahai Aku yang Serba Kamu, mohon kembalikan ke-aku-an-ku.
Dari Aku yang Benar-Benar Aku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar