Minggu, 03 Agustus 2014
Bukannya dengki. Tapi tidak sampai pula mengagumi.
Ini rasanya seperti..
Duh. Bagaimana ya menjelaskannya?
Begini,
Anggap kau adalah seorang anak perempuan yang kesepian. Suatu hari, wali kelasmu mengumumkan bahwa ia akan memberikan seekor anjing bagi yang mendapat nilai tertinggi di kelas. Itu bukan jenis anjing dengan bulu mewah, atau berparas setengah serigala. Sekedar anjing biasa, yang lucu, dan hangat. Kemudian wali kelasmu menitipkan anjing itu padamu, untuk kau rawat, sampai hari pembagian rapor tiba.
Maka kau bawa anjing itu pulang ke rumahmu, kau ajak bicara, kau beri makan, kau ajak jalan-jalan, kau beri nama, kau pajang foto kalian saat bermain di taman kota di lokermu seolah-oleh ia benar-benar sudah jadi anjingmu. Milikmu. Dan perlahan, kau mulai merasa tidak lagi kesepian.
Namun saat hari pembagian rapor tiba, wali kelasmu memberikan anjing itu ke anak perempuan di bangku sebelah, yang tentu saja karena ia mendapat ranking pertama. Kemudian kau dipaksa untuk tetap kuat saat menyerahkan anjing -yang selama ini sudah kau anggap milikmu- itu. Bagaimana dengan si anjing? Anjingmu tampak riang. Mungkin karena ia bangga menjadi milik Sang Juara Kelas.
Apa yang kau rasakan tiap melihat Si Anak Perempuan di Bangku Sebelah?
Ya. Seperti itulah yang kumaksud kiranya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar