Selasa, 02 September 2014
Ke Tati; Ke Parman
(Ke Tati...)
Parman menatap jenuh pada toples yang setengah penuh.
Kemudian mulai mengingat-ingat bagaimana awal ia bisa bosan menjadi dermawan; dermawan yang suka hambur hati sana sini.
Kemudian Parman mengingat-ingat bagaimana tiap derma itu berakhir dengan caci maki, tanpa satu pun terima kasih.
Tanpa satupun,
Kecuali dari Tati.
Dan Parman ingat bagaimana terima kasihnya Tati; "Terima kasih sudah bermain hati hari ini. Kujahit dulu ya, besok ambil laggi"-nya Tati.
Maka tahulah Parman bagaimana ia bisa membunuh jenuh : Ke Tati.
(Ke Parman...)
Tati menatap anjing jalanan yang acuh pada remukan hati yang ia dermakan.
Kemudian Tati mengingat-ingat bagaimana awalnya anjing jalanan yang kelaparan dan tak sabaran untuk mengenal waktu tunggu pun bahkan menolak remuk hati itu.
Kemudian Tati mengingat-ingat bagaimana tiap dermanya tampak seperti obralan murah suka rela tanpa satupun pinta.
Tanpa satupun,
Kecuali dari Parman.
Dan Tati ingat bagaimana pintanya Parman;
"Tolong pantaskan lagi hati ini untuk dibawa besok pagi"-nya Parman.
Maka tahulah Tati bagaimana ia bisa merasa diminta : Ke Parman
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar