Sabtu, 20 September 2014
suatu bab
"Kau tahu betul, bukan? Bahwa aku tidak pernah benar-benar pergi sejak hari itu karena aku merasa sungguh bertanggung jawab atas masa depanmu. Tapi justru sejak hari ini aku jadi berpikir akan kehilangan masa depanku"
"Ayolah, quentin. Hentikan percakapan bodoh ini. Kau tidak pernah benar berjuang untuk masa depanmu".
"Aku berjuang untuk masa depanku. Menurutmu bagaimana rumah tua dan sepetak tanah itu? Jatuh dari langit?"
"Bukan. Bukan itu. Ini masalah pengakuan, Quentin. Kau tidak pernah mengakui untuk siapa rumah tua, sepetak tanah, mobil mini, dan digit di rekeningmu itu".
"Ya Tuhan, Candaceku. Orang dewasa tidak akan pernah mempermasalahkan tentang pengakuan, kau tahu".
"Nah, dan itu. Kau selalu mengkritikku kekanakan. Katakan perihal pengakuan tadi pada ibumu yang simpanan orang itu, dan lihat siapa yang sebetulnya kekanakan"
"Kau keterlaluan"
"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat. Akupun sudah merancang masa depan baru sekarang, yang lebih tentu. Bukan perkara materi, ini perkara langkah yang akan kami ambil nanti".
Candace berlalu.
Quentin menyaksikan masa depannya berlalu.
Harus dilepaskannya lagi kah? Atau mesti ia kejar untuk kemudian diikatnya?
Ya, kali ini benar diikatnya.
Maka pergilah Quentin ke pusat perniagaan, siang terik ini juga. Membeli jas yang tidak ala kadar seperti yang ada di lemarinya.
***
Bab ini sungguh kita, ya?
Bedanya, aku tidak pernah seberani Candace untuk benar-benar meninggalkan, dan Kau tidak pernah seberani Quentin untuk benar-benar memperjuangkan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar