Tabu
“Ini sudah tahun kelima. Pendidikanmu belum juga selesai?”
Lagi-lagi kujawab dengan senyum. Aku tahu betul kau berharap lebih. “Ini tahun terakhir”, jawabku masih berusaha meyakinkanmu sekenanya.
“Sudah itu?”
“Pengabdian dulu setahun”
“Sudah itu?”
“Akan mulai ada tabungan untuk masa depanmu”
“Baiklah, Aku menunggu”, jawabmu. Tak lupa kau tambahkan selengkung senyum yang sempurna untuk mengakhiri percakapan malam itu. Aku tahu betul bagaimana kau dan orang tuamu mulai getir dengan umur kita yang sudah tidak muda lagi. Apalagi di desamu yang penuh orang kolot itu. Kau pasti dijuluki perawan tua, ya? Sabarlah, Aina. Sebentar lagi aku pasti banyak uang.
***
“Jadi bagaimana, Dok?”, Si Ibu kembali mendesakku.
Lidahku mengelu, mengerang minta waktu. Bergantian kutatap dua wanita yang duduk di seberang meja. Ini kali pertama mereka datang, meminta tolong dengan menghamba atas masalah yang mereka bawa dari kota. Waktu 2 jam lebih yang mereka tempuh untuk duduk di praktik ini tidak membuat Si Ibu kehabisan energi untuk mengumbar cemasnya. Si Anak Gadis, yang berseragam putih abu-abu, belum bicara sepatah katapun. Wajahnya kaku, mengatakan bahwa ia berusaha keras membungkam nalurinya yang berontak pada logika yang ditawarkan Si Ibu. Kasihan betul.
“Beri Saya waktu, Bu”.
Si Ibu mendengus kesal, Si Anak Gadis menghela napas, Aku masih bungkam. Naluriku dicabik-cabik logika saat otakku yang menghitung lembar-lembar Rupiah terperangkap bayang-bayang Aina. Aina yang masih di desa, menunggu untuk dilamar.
***
“Masalahnya, ini baru minggu ketujuh praktikmu dibuka, di kota kecil yang sedikit orang kayanya. Dua puluh juta terlalu banyak untuk itu, Bara”, katamu tanpa berusaha menyembunyikan rona curigamu.
“Aku mengaborsi, Aina. Dua puluh juta tidak terlalu banyak untuk itu”
Kau terkesiap, membungkam mulutmu rapat-rapat. Matamu nanar, dagumu bergetar. Seketika kudengar kuping kanan dan kuping kiriku saling caci, logika dan naluri saling tuduh siapa yang sebenarnya pembunuh.
“Aina, dengar. Kita menyelamatkan harga diri dua keluarga, masa depan Si Gadis, dan tentu saja masa depan kita sendiri. Ini bukan dosa besar. Yang kau rasa itu sekadar tabu. Itu akan hilang kurang dari se-”
Kau tutup telinga dan mulutmu rapat-rapat waktu itu, juga harapmu untukku. Aku tahu, karena yang kudengar senin depan nanti akad nikahmu, yang bukan denganku. Selamat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar