Sabtu, 05 Januari 2013

Mata dari Marlin

Mata dari Marlin


“Suara hujankah itu, Marlin?”
“Ya. Mau kutambah gula lagi di kopimu?”
“Kenapa begitu gaduh?”
“Karena ini bulan November, Em. Mau kutambah gula lagi di kopimu?”
“Bagaimana bentuk hujannya, Marlin? Apa masih berbentuk air? Kenapa benturannya terdengar keras sekali?”
“Masih air, Em. Seperti biasa. Hanya kali ini mereka lebih ramai”.
Aku mengangguk. “Boleh tambahkan gula di kopiku, Marlin?”, kataku sambil menyodorkan cangkir kopiku pelan-pelan ke arah suara Marlin. “Apa nanti setelah hujan yang ini tetap ada pelangi, Marlin”.
“Kurasa”.
“Apa aku ada pakaian warna pelangi, Marlin? Seingatku Mama pernah bilang ada pelangi di lemariku”.
“Tidak ada, Em. Itu cuma handuk, yang sering kau pakai untuk mengeringkan badan sehabis mandi itu”.
“Sayang sekali, Marlin. Padahal aku mau melihat pelangi saat pertama kali membuka mata besok”.
“Kurasa besok akan hujan lagi, Em. Tenanglah”.
“Marlin. Terima kasih sudah menjadi mataku tiga belas tahun ini. Kau lebih dari teman. Kau anugrah Tuhan. Asal Kau tahu”.

*

“Em, katakan sesuatu. Apa kau melihat kami?”
Aku menangkap suara Mama di depanku, beberapa detik sebelum beberapa butir cahaya masuk pelan-pelan, berbaris semakin rapat, membentuk beberapa dimensi. Seseorang dengan rambut sebahu dan mata yang lebar tepat ada di depanku saat ini.
“Mama?”, tanyaku pelan.
Mama memelukku, diikuti Papa, lalu Melissa. Dokter Blane menjabat tanganku sambil mengatakan “Selamat”. Aku mengenalinya dari suaranya.
“Ma, dimana Marlin?”
“Oh ya, tentu saja. Melissa, bawa Marlin kesini”, pinta Mama lembut. Beberapa menit kemudian Melissa datang dengan sebuah boneka berkepang dua dan berpakaian lusuh di tangan kanannya.
“Katakan Halo pada Marlin, Em”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar