Sabtu, 05 Januari 2013

Anak di Kamar Mama

 Anak di Kamar Mama


          Masih duduk di pojok kamar, diantara buku-buku tua dan lapisan debu yang kian menebal. Masih menghitung jumlah ikan di seprai. Kemarin berhenti di 1202. Berarti mulai dari 1203, 1204, 1205, 1206, 120..

ah, lagi-lagi lupa angka apa sesudah enam.

Mama? Mana Mama? Angka apa sesudah enam, Ma?

          Mama tak bergeming. Aku memeriksa matanya pelan-pelan. Tertutup. Mama tidur, setelah baru tujuh menit pulang ke kamar.

Jadi angka apa sesudah enam?

          Kurasakan otak ini mulai melilit, laci memori berderit-derit, mata panas, dada sesak, napas pendek-pendek. Pasti harusnya saat ini aku sedang menangis, kalau saja punya lakrimal. Itu loh, kelenjar air mata. Kata Mama, nanti kalau dia sudah jadi dokter bedah, akan ada sepasang lakrimal yang diimplannya di mata ini. Operasi kecil-kecilan saja. Kalau perlu cukup disini, di kamar, supaya aku lebih tenang. Ini bulan terakhir Mama jadi dokter muda. Aku pernah berpikir, harusnya setelah dokter muda, ya jadi dokter tua. Tapi ternyata jadi dokter sa..

Ah, ya! Tujuh! Tujuh! Tujuh sesudah enam, enam sebelum tujuh!

          Senyum porcelainku melebar setengah milimeter. Kelihatannya bagaimana?

          Baiklah, cukup dulu berhitung hari ini. Mudah-mudahan besok seprai belum diganti. Aku, dan dua temanku, mendoakan Mama tidur nyenyak malam ini supaya segar kembali besok pagi. Kami boneka di kamar Mama, menitipkan harap-harap pada tiap pucuk angin yang lewat untuk diberangkatkan masuk ke mimpi Mama malam ini. Sudah berapa tahun tidak memimpikan kami, Ma? 3, 4, 5, 6, atau … Ah, sudahlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar