Sabtu, 05 Januari 2013

Belum Layak

Belum Layak


           Lebih dari belasan kali kupikir ulang untung ruginya aku berada disini. Namun tiap kali aku berpikir tentang ruginya, Malaikat selalu membacakan surat-surat dari Para Bayi yang sudah lebih dulu berangkat ke alam rahim. Hampir seluruh kalimat dalam surat-surat mereka dilengkapi keterangan subjek yang merujuk pada sifat gembira. Subjek bergembira. Para Bayi bergembira.

… Pernah suatu hari, aku bosan sekali. Kutendang-tendang ruang sempit di alam rahim sekuat tenaga sambil berteriak, “Ibu, Aku mau keluar!”. Lalu apa reaksi Ibu? Ia membelai perutnya dengan lembut, dengan sangat lembut, sampai geli-geli yang kurasa. Kau harus coba sensasi geli itu. Itulah cara kita bermain dengan ibu – Bayi Ny. X, 5 bulan dalam kandungan.

… Ibuku alimnya minta ampun. Seharian penuh diperdengarkannya Aku ayat-ayat kitab suci, dengan suaranya sendiri yang merdu benar itu. Entah berapa kali sehari Ia bersujud. Tiap-tiap sujudnya itu, ada suara yang menggema dari jantungnya, menggema dengan nada khusyuk. Isinya hampir selalu sama, semoga anaknya sehat, kuat, cerdas, dan beragama. Ah, kalau Aku jadi lahir nanti, haruslah Aku jadi Ulama, supaya Ibu bangga – Bayi Ny. Y, 4 bulan dalam kandungan.

… Tidak tentu lagi Aku ini makan berapa kali sehari. Sudah masuk nasi, daging,ikan, sayur ini itu, air kelapa, kacang hijau, dan semuanya yang aku suka. Awalnya, Aku cuma coba-coba. Kusampaikan pada jantung Ibu, “Bu, Aku mau sate ayam”, dengan bisikan yang sangat pelan. Entah apa itu sate ayam. Namanya baru kudengar dari Si Usus. Itu favoritnya. Tidak berapa lama kemudian, sate ayam masuk. Luar biasa lezat. Terus kuulangi cara yang sama untuk makanan lain. Si Usus kegirangan, “Terima kasih sudah membuat Ibu mengidam”, katanya – Bayi Ny. Z, 3 bulan dalam kandungan.

           Surat-surat semacam itu terus dibacakan untukku. Darinya, tersusun mimpi yang megah tentang Ibu. Ibuku sendiri. Aku harus punya Ibu sendiri, menjalin ikatan dengannya, agar bisa segembira bayi-bayi yang telah lebih dulu ke alam rahim itu, batinku, tujuh bulan yang lalu.
           Namun sepertinya ada rencana lain untukku. Kemarin sore, saat aku sedang menendang-nendang sambil berharap Ibu menggelitikiku, muncul monster mengerikan di alam rahim. Di capitnya Aku di sana sini, di pisah-pisahkannya kepala dengan leher, leher dengan badan, badan dengan tangan, badan dengan kaki.
           Ada apa ini? Kemana Ibu? Kenapa Ia tidak menolongku? Aku hanya bisa berdoa pelan kepada Tuhan, semoga monster ini tidak mencederai Ibu sedikit pun. Semoga suatu saat nanti, jika aku sudah cukup layak, Tuhan memberiku kesempatan untuk tinggal di alam rahim lebih lama lagi. Alam rahim Ibuku. Ibuku. Ibu yang sekarang ini sangat kucintai dan yang telah kubangun banyak mimpi dengannya.

*

Hey, Bayi. Maafkan Aku. Aku belum siap menjadi Ibu yang Kau agung-agungkan itu. Aku ini kotor. Carilah Ibu baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar