Sabtu, 05 Januari 2013

Salah Pilih

Salah Pilih


“Jane, kali ini kau benar-benar salah pilih. Percayalah”.
“Aku tidak mungkin salah pilih, John. Tenanglah. Kau ingat, aku sudah memilih pakaianku sendiri untuk setiap pentasku sejak umur tiga tahun, dan semuanya berhasil”.
“Ayolah, Jane. Ini bukan tentang fashion show. Maaf, Jane. Tapi menurutku bahkan kau tidak menggunakan matamu kali ini”.
Jane tertawa masih dengan penuh rona. Oh, Jane yang malang. Aku bersumpah melihat sebotol anggur di matanya. Beginikah mabukmu, Jane?

*

“Apa kubilang, kau salah pilih, Jane!”
“Jangan berlebihan, John. Aku bahkan belum mulai mengoreksi”.
“Kalau begitu mulailah sekarang, Jane. Sebelum semuanya terlambat”.
“Ya ampun. Sejak kapan kau jadi semengganggu ini, John?”
Jane hanya tersenyum. Senyum yang tanpa rona. Aku bersumpah melihat kilat ragu di matanya. Mulai goyah, Jane?

*

“Kena kau sekarang, Jane! Ayolah akui saja”.
“Akui apa, John? Kalau aku salah pilih?”
“Tentu. Bahkan dunia sudah tahu betapa buruknya pilihanmu kali ini, Jane”.
“Baiklah. Benar, John, aku salah pilih. Terima kasih sudah memberi tahu dunia betapa bodohnya aku”.
Jane terisak. Aku bersumpah melihat segumpal api di matanya. Kepada siapa api itu akan kau bakarkan, Jane?

*

“Ada apa lagi, Jane? Apa yang kurang?”
“Aku candu, John. Kau tidak bisa menyelamatkanku, percayalah”.
“Oh, Tuhan. Jadi apa yang akan kau lakukan, Jane?”
“Mulai dari awal, John. Aku bersumpah tidak akan salah pilih lagi. Aku yang akan jadi pilihan kali ini”.
Jane tidak tertawa, tidak tersenyum, tidak merona, tidak terisak. Entah apa itu namanya. Aku bersumpah melihat hamparan salju di matanya. Dingin. Jane mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar