Harusnya Begitu
Harusnya aku melepasmu, dengan sedikit marah dan banyak kecewa. Tapi pasti kau tahu benar bagaimana bisa aku tanpamu. Tidak ada salahmu yang terlalu mutlak di mataku. Walaupun beberapa suara kian sibuk mencaci tingkahmu, sepenuhnya aku memilih untuk tetap membelamu. Pembelaan yang menuntutku untuk terus berpura-pura biasa dan tanpa tanda tanya dengan semua ulahmu itu.
Harusnya aku melepasmu karena semakin aku mencoba berdamai dengan waktu, semakin ia coba membunuh. Ada cemas yang menggebu untuk setiap detak jam yang tertawa, padahal sebenarnya itu rindu. Ada sedih yang tak terbayangkan untuk tiap kabarmu yang mencengangkan, padahal itu candu.
Harusnya aku melepasmu. Harusnya begitu. Kemudian belajar untuk kembali sebahagia dulu dengan harapan-harapan yang baru. Namun tanpa kamu, aku hanya abu-abu. Walaupun sudah kuhapus jejakmu itu berulang kali, tapi tetap saja seribu persimpangan di depan kembali menuju ke kamu.
Sudah terlalu gaduh disini. Bagaimana cara menyampaikannya padamu?
Begini saja, kalau suatu hari nanti kamu temukan beberapa lentera yang berbaris menuju rumahmu, itu hanya Aku yang berusaha untuk tidak tersesat. Mohon jangan keberatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar