Sabtu, 05 Januari 2013

Rumah dengan Seribu Jendela

Rumah dengan Seribu Jendela


Bayangkan rumah dengan seribu jendela. Ya, rumah. Benar-benar rumah. Lalu ada tiga pohon mawar mini di bawah setiap jendelanya. Berpinggiran coklat tua agar manis membingkai senja. Ada satu yang paling besar ditengah. Di sebelah dalam jendela yang paling besar itu ada meja kecil tempat kita minum kopi di pagi hari, melepas kemelut pada tiap buih yang kita hirup.

Ah, kamu masih tidak suka kopi?
Ya sudah, kita ganti teh hangat saja. Asal tahu, senyum kamu itu lebih membangunkan dari segelas besar kafein bagi saya.  Tanpa senyum itu, saya lelah, saya koma. Lebih baik saya tidur terus. Serius.

Lalu bagaimana kalau langit di luar benar-benar mendung kemudian angin kencang memburu masuk lewat seribu jendela itu?
Entahlah. Lah, yang penting kan ada kamu. Asal tahu, matahari saya itu kamu. Tanpa kamu, saya mendung, saya abu-abu. Lebih baik saya berselimut terus. Serius.

Eh, bunga mawar di bawah setiap dari seribu jendela tadi bagaimana menyiramnya?
Tunggu sebentar, biar saya pikir-pikir dulu. Kita buat jendela yang tanpa balkon, biar hujan bisa menghidupiny. Kalau hujan sedang enggan turun,  kita yang akan menghidupinya. Kita itu kamu dan saya. Kamu di lima ratus jendela sebelah kanan, saya di lima ratus jendela sebelah kiri, lalu kita bertemu di tengah di jendela yang paling besar. Bagaimana?

Ya, kamu benar. Saya memang sering tidak masuk akal. Maaf. Ya sudah, jendelanya dikurangi jadi dua, dengan lima pohon mawar mini dibawahnya. Biar saya yang siram tiap pagi, kamu minum teh saja di teras. Kalau seperti itu, masih tidak mau juga kah kamu menjadi bagian dari rumah saya?
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar