Sabtu, 05 Januari 2013

Tameng

Tameng


           “Aku tidak akan bisa menyaingi Si Angsa , Ma”.
           “Tentu saja Kau bisa. Sudah kau temukan gaun yang cocok?”
           “Ada. Warnanya kuning telur”.
           “Kenapa tidak Kau beli?”
           “Harganya, Ma. Hampir tiga juta”, suaraku memelan, menunggu reaksinya.
           “Ya, Tuhan. Sudah. Belilah pulang ini. Jangan sampai Kau didahului Si Angsa”.
           Mama beranjak dari kursi makan, menuju kamar. Ia pasti mengambil kartu kreditnya untuk dipindahkan ke dompetku. Kadang aku resah. Bagaimana bisa hidup kami tidak sedikit pun berubah sejak Papaku yang kaya raya pergi tak berkabar? Tetap ada gaun mahal, mobil mewah, kursus yang beragam, les privat dengan guru terbaik, dan seterusnya. Itu cukup membuatku berbaur dengan Para Angsa, walaupun aku tahu benar bahwa sebenarnya aku ini sekedar Si Itik yang Terpelihara.
           Pernah suatu hari aku kehilangan dompet. Itu berarti aku kehilangan Rp2.000.000 seharga dompetku sekaligus Rp500.000 di dalamnya. Matilah aku. Mama pasti mengamuk. Benar saja. Mama membunuh waktu sekitar sepuluh jam dengan nasihat yang itu-itu saja, dengan model kalimat yang juga itu-itu saja. Itu terjadi dua hari sebelum ulang tahunku. Sial. Pasti tidak ada kado tahun ini, tebakku. Ternyata aku meleset. Pagi-pagi sekali, mama membangunkanku di hari ulang tahun, kemudian menarikku menuju ruang tengah. “Selamat ulang tahun”, serunya. Ia berdiri di sebelah piano mewah yang tampak elegan. Padahal aku belum mahir sama sekali.
           Jika Kau memintaku menggambarkan Mama, maka yang keluar hanya akan puja-puji. Seperti ia cantik, elegan, pintar, kuat, efisien, loyal, penuh motivasi, dan seterusnya sampai Kau bosan. Sampai dengki memakan hatimu. Sampai tanya menjalar di otakmu, kenapa bukan ibumu yang seperti itu?

***

           Panas menjalar ke kudukku dengan tergesa-gesa. Aku menutup jendela di sisi kiri. Sial, udara malah jadi pengap. Jalanan macet sudah hampir setengah jam. Beberapa orang turun dari bis dan memilih berjalan. Kuputuskan mengikuti jejak mereka.
           Sampai di depan kerumunan kendaraan, kulihat sebuah sosok yang familiar sedang mengamuk di tengah jalan. Rambut kusut, mata nanar, badan kumal, tawa liar. Berorasi menghambur cemas sambil menebar puluhan lembar kertas. Aku memeriksa beberapa diantaranya. Surat tagihan. Sepuluh juta, lima puluh juta, seratus juta..
          Sekali lagi kutatap wanita itu dengan seksama.
          Ma?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar