Kamar Imajiner
Dulu, dulu sekali, ada seorang gadis kecil yang biasa duduk disini. Ia menerbangkan balon harapan tiap hari. Ya, balon harapan. Balon biasa yang di dalamnya ada selembar surat berisi harapan-harapan sederhana. Aku pernah mencuri baca harapan tersebut, "Semoga Mama masak gulai nangka hari ini", "Semoga oleh-oleh Papa dari luar kota adalah boneka Susan", "Semoga Nenek cepat sembuh", "Semoga Bik Sri pulang lagi habis lebaran nanti", dan sejenisnya, dan masih banyak lagi.
Gadis kecil ini menerbangkan balon harapan dengan penuh keyakinan bahwa balon tersebut akan sampai ke tempatnya, ke kamar imajinernya yang ada di ufuk timur 2.3 juta cahaya dari Capella biasa termangu pada tengah bulan. Ia titipkan sebentar harapannya disana dan akan diambilnya nanti. Benar-benar nanti. Karena ia percaya suatu saat nanti dia benar-benar bisa terbang dan mendarat dengan nyaman di kamarnya yang 2.3 juta cahaya dari Capella biasa termangu pada tengah bulan itu.
Suatu hari, ia datang dengan menangis sambil menuliskan selembar harapan. "Semoga temanku yang satu itu dibuang Tuhan ke Antartika". Harapan itu terbang dalam sebuah balon hijau. Namun, hanya beberapa meter setelah lepas landas, duar! Balon hijau meletus membiarkan lembar harapan tadi mencumbu tanah yang basah.
Gadis itu segera sadar bahwa tidak semua harapannya bisa terbang sampai ke kamar imajinernya. Harapan yang bisa terbang setinggi-tingginya hanyalah harapan yang baik. Ya, harapan yang buruk hanya akan menjadi noda di kamarnya.
Sampai sekarang, aku yang tua ini terus berdoa, dimanapun gadis kecilku itu berada, ia diselamatkan dari harapan-harapan yang buruk, harapan-harapan yang salah. Karena untuk terbang sejauh dan setinggi kamar imajinernya itu, ia tidak boleh salah arah.
Ps: Aku, jendela ruko tuamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar