Makan Malam yang Ganjil
Ada yang ganjil pada makan malam hari ini. Pada sup kental merah tua dan kentang goreng amis yang disajikan bulat-bulat. Mama menunggu di seberang meja dengan binar mata lebih dari biasa.
“Selamat ulang tahun pernikahan yang pertama, Pa”, katanya memanja. Laki-laki di depannya tersenyum kecut. Mukanya merah padam. Muak.
“Aku membuatnya seharian ini”, kata Mama sambil melirik pada kami.
“Kenapa ada pisau daging di atas meja?”
“Hidangan ini sungguh tidak biasa. Sup itu, yang kental merah tua, ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu seperti resep rahasia”
“Kenapa ada pisau daging di atas meja?”
“Aku mendapatkan resep itu dari tetangga sebelah. Pagi ini me-”
“Kenapa ada pisau daging di atas meja?”
“Oh ya, kenapa, Pa?”
“Pisau daging. Pi-Sau. Kenapa?”
“Oh, itu untuk mengiris apel. Hidangan penutup nanti”
“Mana apelnya?”. Kening Papa mengkerut, bingung pada apa yang Mama tunjuk.
“Itu. Di hadapanmu”
“Tidak ada apel disana. Kamu berbohong lagi. Kalian berbohong lagi”. Papa melirik pada kami, dengan matanya yang tampak seperti bongkah es. Dingin. Siap menghujam kami.
“Itu apelnya. Di hadapanmu.”
“Cukup!”
Papa berdiri. Mukanya merah padam. Jijik. Dibalikkannya mangkuk sup sampai isinya yang kental merah tua itu menghambur di meja makan. Pelan-pelan menggerayang, saling dorong, sampai terjatuh ke gaun Mama.
Mama berdiri. Mukanya putih pucat. Ketakutan. Dilemparkannya kentang amis di depannya itu bulat-bulat ke arah Papa. Cepat-cepat mengudara, saling susul, sampai hancur lebur sampai mendarat di wajah Papa. Kami menikmati pertunjukkan malam ini sambil sesekali tertawa genit.
“Diam!”, Papa menghardik Kami, sambil melempar pisau pada apel di hadapannya.
“Nah! Itu, Lihat! Kau membunuh apelnya! Kau melihat apelnya!”
“Bukan, Sayang. Bukan apel. Itu urat lehermu”
Mama menatap pisau daging di atas meja. Berkilat menyilaukan sambil terbahak. Pada gagangnya terbayang-bayang urat leher Papa.
“Bukan, Pa. Itu punyamu. Itu urat lehermu”
Ada yang ganjil pada makan malam hari ini. Pada sup kental merah tua dan kentang goreng amis yang disajikan bulat-bulat. Mama dan Papa saling bunuh malam ini. Entah apa yang menghipnotis mereka. Tapi mungkin juga kami. Boneka porcelain di ruang makan yang sudah lama tidak menonton komedi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar