Pelangi dalam Abu-abu
Kami bertemu tiga hari yang lalu di seberang toko roti yang kala itu dikerubungi mendung, semendung sore ini. Kelabu, hari itu. Tapi tidak dengannya. Gaun jingga berpotongan sederhana yang ia pakai senja itu membuat semua yang ada di sekitar kami terlihat monokrom. Angin senja mengirimkan auranya ke saraf sensorikku, yang kemudian ditranslasikan oleh otak sebagai kata “me-nga-gum-kan”.
Dengan memilintir otak, Aku memulai percakapan kami yang pertama senja itu. “Sedang menunggu?”, kataku kalau tidak salah. “Tidak. Aku sedang kabur”, jawabnya. Nah, yang itu Aku ingat betul, karena semua kalimatnya sudah dilaminating disini, di memoriku. Kemudian Aku menanggapinya dengan tawa. Lalu kami berbincang tentang cuaca, tentang tukang roti di seberang, dan tentangnya. Jadi namanya Pelangi. Katanya, hari itu bukan hari terbaiknya. Aku melontarkan beberapa nasihat. Ia menanggapinya dengan senyum gulanya itu dan mengakhiri percakapan kami dengan, “Kau menyenangkan. Aku harap kita bisa bertemu lagi”.
Dua hari yang lalu, Kami bertemu lagi. Aku menunggunya dari pagi-pagi sekali di seberang toko roti. Ia menghampiriku saat senja yang hampir malam. Sekali lagi ia mengaku itu bukan hari terbaiknya. Kutawarkan lelucon untuk keluhnya. Ia tertawa. Kami bercanda. Kemudian Aku mengiringnya kembali bercerita tentang dirinya. Katanya, ia seorang penulis. Novel yang sedang ia buat saat ini bercerita tentang rencana pembunuhan seorang istri terhadap suami dan bayi mungilnya. Saat kutanya apa motif Si Istri, “Ia hanya ingin”, jawabnya. Kami tertawa lagi.
Dua puluh empat jam yang lalu, aku menantinya dengan rindu yang gaduh. Beberapa kali kuimajinasikan ia datang. Tapi hari itu hanya berakhir dengan tanya. Kemana?
Aku mengaduk kopi kental di depanku, kemudian menghirupnya pelan-pelan, memandang jauh ke langit mendung sore ini sambil menarik napas panjang, mencoba tenang sebelum akhirnya kembali melirik surat kabar di meja. Berita hari ini tidak baik. Di halaman paling depan saja sudah tertera berita kriminal, tentang pembunuhan oleh seorang istri kepada suami dan anaknya yang masih umur seminggu. Menjijikkan.
Apalagi melihat potretnya terjebak disana.
Ada Pelangiku di dalam koran abu-abu hari ini, pada kolom berita kriminal yang sungguh kelabu. Sekali lagi aku tertangkap pesonanya. Dosakah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar