Aku(spasi)Kamu
akumenerobosspasisupayatidakadalagiAku(spasi)Kamu
yangkianmengAku(spasi)Kamu
Sejakhujanderassenjaitu
(1) Kamu
Mencaci hujan senja kemarin, dengan penuh
Serapah
Yang persis sama dengan
Serapah
Yang Kamu seruakkan kepada terik pagi-paginya
(2) Aku
Mengaduk kopi hitam pelan-pelan, menatapmu sambil melepas
Puja
Agar tenang dirimu dan lagi-lagi
Puja
Agar lupa dirimu pada caci maki yang terlanjur bertebaran
(3) Hujan Senja itu
Datang terlalu gaduh. Menitipkan terlalu banyak gemuruh.
Ribut di telinga. Kacau balau di batang otak.
Hela napas dan debar jantung saling bunuh.
Yang Aku sampaikan puja, yang Kamu translasikan serapah.
Hujan deras senja itu, Awalnya
Aku(spasi)Kamu, akhirnya
(4) Rindu
Yang mengenyangkan perut saat tiba waktu sarapan begitu juga makan siang sampai makan malam,
dan yang membelalakkan mata pada malam sampai kembali fajar,
dan yang mengubah tiap irama ¼ menjadi kidung maha lambat.
Setelah hujan deras senja itu,
Rindu tumbuh subur, Aku layu terkubur,
Kamu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar