Sabtu, 05 Januari 2013

Simulasi Kata

Simulasi Kata


         Aku menatap ponselku dengan pilu. Detak jam dinding mulai terdengar menertawaiku. Ini sudah hampir tengah malam ketika aku mendapati kabar darimu setelah seharian menunggu.
         Maaf, aku ketiduran. Kau sudah tidur juga, kan? Selamat malam, semoga mimpi indah. Aku mencintaimu.
         Kalimat itu sembilan puluh persen sama dengan pesanmu 23 jam yang lalu. Apa kau membuat template selamat tidur untukku, Sayang? Sudah dua minggu selalu seperti ini.
         Aku belum tidur.
        Kuputuskan untuk membalas pesan itu malam ini, kemudian menunggu sekitar lima belas menit sampai akhirnya yakin kau tidak akan membalasnya lagi.

*

         Getar ponsel membangunkanku. Samar kulihat jarum jam menunjuk angka 4 dan 5, yang entah artinya 4.25 atau 5.20. Sebuah pesan masuk darimu.
        Aku langsung tidur lagi semalam, maaf. Selamat pagi, semoga ujianmu sukses hari ini. Aku mencintaimu.
        Aku terlalu pilu untuk membalas pesanmu. Sulit mengartikanmu dan beberapa kalimatmu akhir-akhir ini, terutama di bagian akhir setiap pesanmu itu. Beberapa kata diciptakan indah hanya ketika kau benar-benar mengerti maknanya.

*

        “Aku sudah tidak paham denganmu, Jack”.
        “Bagian mana yang tidak kau pahami? Pola tidurku?”
        “Tidak. Ini tentang beberapa kalimatmu”.
      “Bagian yang mana, Kate?”, katanya sambil mengambil salad di pinggir piringku. Aku membaca ekspresinya. Datar. Seperti biasa.
        “Bagian yang aku mencintaimu”.
        Ia diam. “Ada yang salah dengan kalimat itu?”
       “Ya. Aku tidak pernah melihatmu terlihat seperti kalimat itu”.
       Ia menghela napas. “Kau menaruh ekspektasi terlalu tinggi padaku, Kate. Ingat, kita hanya melakukan simulasi kan? Sekedar latihan kalau-kalau kita punya kekasih nanti”.
Jack benar. Aku mulai tenggelam dalam simulasi kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar