Dari Jack Untuk Amy
Aku akan datang lagi, Amy. Dengan pakaian paling formal yang kumiliki, dan satu hadiah lagi.
Bagaimana dengan cincin? Yang polos saja, agar jari manismu tetap anggun. Di kotaknya nanti tetap akan kutulis seperti biasa,
"Untuk Amy"
Tapi mungkin akan kutambah sedikit di depannya. "Dari Jack".
*
Hujan tadi malam masih menyisakan beberapa tetes air yang turun berbaris dari balkon, saling berirama setiap kali menghentak pipa dibawahnya. Aku berusaha menyatukannya dengan detak jam dinding yang pada akhirnya selalu terdengar dominan. Lagi, aku gagal hanya untuk tidur.
Jam berapa sekarang?
Aku berusaha memusatkan penglihatanku. Dua angka yang ditunjuk sepertinya 3 dan 4. Entah itu artinya 3.20 atau 4.15. Aku menghela napas sebelum akhirnya memutuskan untuk bangun, duduk di tepi tempat tidur. Samar namun pasti ada derit ritmis yang perlahan masuk ke telingaku.
Ya! Ayunan taman kota!
Siapa yang ada di taman kota pukul 3.20, atau 4.15, seperti ini? Beberapa hipotesa membawaku menghadapi angin malam menuju taman kota, melewati baris demi baris mawar merah yang tersusun rapi dan sama tinggi.
Mataku terperangkap pada suatu sosok di ayunan.
Bidadari kah itu?
Segumpal senyumku lepas saat mengikuti gerak rambut hitamnya yang ikal dan panjang, selaras dengan ayunan kakinya. Sebuah buku berkulit coklat muda yang digenggam tangan kirinya, tenggelam dalam pelukannya, bersandar di cardigan biru tosca. Di depannya tertulis “Milik Amy”.
Yang aku tahu, seharusnya aku beranjak ke barisan mawar di depan, memetik beberapa untuk lalu kuberikan padanya sebagai hadiah perkenalan. Terlalu mainstream kah itu? Ya. Lebih baik kelopak-kelopaknya saja, lalu dimasukkan dalam botol bening dengan pita merah tua di lehernya, dan juga secarik kartu bertulisan “Untuk Amy”. Seharusnya begitu..
*
Namanya Amy. Ia tinggal dengan neneknya. Rumahnya sekitar dua blok dari sini. Setiap pagi harus melewati bangunan ini untuk sekolah. Tas dan sepatunya hijau tosca, warna yang kemudian akhir-akhir ini jadi favoritku. Sekitar pukul 15.00, selalu tampak menunggu di halte untuk bus tujuan luar kota. Tidak kelihatan lagi sampai hampir tengah malam, biasanya di taman kota. Tapi pernah juga di trotoar depan rumahnya, disebelah tiang kotak surat. Oh ya, hampir tiap pagi sebuah kotak tergeletak di depan pintunya, seperti hadiah. Aku pernah menunggu sampai pagi hanya untuk mengetahui dari siapa hadiah-hadiah itu. Tapi hasilnya nihil. Dan besok paginya, Amy kembali menerima sebuah hadiah di depan pintunya. Aneh kan?
Sebenarnya sudah lama terpikir olehku untuk memberikannya beberapa hadiah layaknya pengagum rahasia. Apa saja, yang kesannya manis. Aku bahkan pernah membuat listnya. Mau kubacakan?
Cookies panggang buatanku sendiri, 13 angsa dari origami warna-warni yang sebanyak tanggal lahirnya, sebotol parfum beraroma kayu manis, syal rajut warna merah muda, barbie bergaun hijau tosca, payung lipat agar ia tetap nyaman jika tiba-tiba halte diserang segerombol hujam, jam dinding tanpa baterai yang jarumnya selalu ada di angka 7 dan 12 sehingga harinya seperti selalu secerah pagi. Apa lagi?
Bagaimana dengan gaun pengantin ibu? Berlebihan kah?
Barang-barang itu akan kumasukkan dalam sebuah kotak dengan pita merah ditengahnya, dan sebuah kartu ucapan dengan tulisan “Untuk Amy”. Akan kutaruh di depan pintu rumahnya agar setiap pagi aku dapat melihat ekspresi bingungnya yang menggemaskan itu. Tak apa jika ia menemukan dua hadiah disana. Toh aku yakin isinya tak mungkin sama. Seharusnya begitu..
***
Terlalu sakit. Aku masih berusaha keras untuk lepas. Meronta sambil sesekali menendang. Kukepalkan tanganku dan menariknya menjauhi genggaman mereka. Suara decitan lantai memenuhi ruangan saat tubuhku mulai terseret. Di kepalaku ada perih yang menjalar. Apa ini? Apa mereka menjambak rambutku? Pada akhirnya hanya gumam yang mampu aku teriakkan saat tubuhku mulai sangat lemah.
Kubuka dengan cepat laci-laci memoriku, mencari tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Namun yang kutemukan hanya Amy, berjalan di trotoar beberapa blok dari rumahnya, dan aku yang berlari menghampirinya saat kulihat kalender duduk di meja kamarku menunjukkan bulan 4 tanggal 13. Jadi? Entahlah. Sulit untuk tetap terjaga.
Ah, sudahlah. Mungkin memang lebih baik untuk tidak tetap terjaga.
***
Namanya Jack. Ia tinggal dua blok dari sini, di gedung tua empat tingkat, yang sering kami sebut rumah rehabilitasi. Dua hari yang lalu, bulan 4 tanggal 13, ia menghampiriku dengan wajah pucat dan napas tersengal. Ia mengucapkan beberapa kata yang mana aku gagal untuk mentranslasikan semuanya. Entah karena suara bising jalanan, musik dari kafe di sebelah kanan kami, atau aku yang terlalu fokus dengan wajah yang terasa familiar ini.
Beberapa detik kemudian tiga orang dengan badan tegap datang menghampiri kami. Aku sampai tidak menyadari detailnya. Intinya, tiga orang berbadan tegap tadi menyeret pria yang menghampiriku berbelok ke blok selanjutnya di sebelah kiri.
Kemarin nenek menanyakanku tentang kejadian ini saat makan malam. Ini mengejutkan. Salah satu teman nenek yang berniaga di trotoar saat kejadian itu yang menceritakannya pada nenek. Jadi pria itu namanya Jack, ia salah satu penghuni rumah rehabilitasi sejak hampir empat tahun yang lalu. Tidak tahu tepatnya mengapa ia berada di rumah itu, namun beberapa orang menyebutkan tentang ilusi. Ia sulit sekali beranjak dari dunia yang ia ciptakan sendiri.
Lalu kenapa wajahnya terasa sangat familiar?
Entahlah. Aku sendiri ragu untuk mengetahui jawabannya.
Aku menulis tentang Jack di jurnalku, di bawah keanehan lainnya beberapa bulan ini. Ya, tentang beberapa kotak dengan pita merah tua di tengahnya, yang diletakkan di depan pintu. Pernah isinya sebungkus cookies panggang yang masih hangat, 13 angsa dari origami warna-warni, sebotol parfum beraroma kayu manis, syal rajut merah muda, barbie bergaun hijau tosca, payung berwarna jingga, dan jam dinding tanpa baterai yang jarumnya selalu ada di angka 7 dan 12.
Yang terakhir pada bulan 4 tanggal 13, hari ulang tahunku. Isinya sebuah gaun, yang kalau aku tidak berlebihan menilainya, tampak seperti gaun pengantin. Sederhana, namun manis.
Semua kotak tersebut bertuliskan “Untuk Amy”. Seharusnya tidak hanya begitu kan? Seharusnya ada nama pengirim di depannya. Aku mulai memikirkan beberapa nama yang cocok. Yang sederhana saja agar aku mudah memanggilnya. Bagaimana dengan Peter? Ron? Ben? Ethan?
Jack?
Ya. Sederhana dan mudah diingat. “Dari Jack Untuk Amy”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar