Happy Birthday
Tiktok. Tiktok. Masih dua jam lagi. Tahun-tahun sebelumnya aku akan mulai meniup balon, menghidupkan beberapa lilin, dan menitipkan harapan pada selembar surat. Tapi tidak hari ini. Tidak ada balon, lilin, dan amplop. Hanya ada aku dan ruang gelap. Memeluk selimut. Mencoba tidur. Namun khayalku tak jenuh berlari, ke depan-ke belakang. Betah pada kenangan tentang tiap-tiap kebetulan yang mencengangkan.
Tiktok. Tiktok. Laci memori sembilan tahun yang lalu terketuk. Aku ragu pada setumpuk arsip yang tak sabar minta dibaca. Halaman pertama berjudul, Kamu, yang masih aku ragukan namanya. Di baliknya ada cerita tentang bagaimana bagusnya kamu dengan ‘lagu yang itu’, dan bagaimana aku belajar mengingat tiap baitnya tanpa harus lupa saat tidak bersamamu. Namun aku selalu gagal. Hanya ada beberapa kalimat tidak utuh yang pincang nada. Ya. Aku tidak pernah bagus dengan ‘lagu yang itu’.
Tiktok. Tiktok. Laci memori delapan tahun yang lalu terketuk. Ada setumpuk arsip lain yang tak sabar minta dibaca. Aku ingat mereka tentang apa. Tentang harapan-harapan naifku untuk bertemu kamu di tempat yang baru. Beberapa skenario di novel romansa telah meracuni khayalku. Sebagian kebetulan membuatku mendadak tersipu. Kebetulan yang hampir sempurna seperti yang di novel-novel itu. Namun tetap saja akhirnya tidak sama. Ya. Aku belum juga bertemu kamu.
Tiktok. Tiktok. Laci memori tujuh tahun yang lalu terketuk. Hanya ada beberapa lembar arsip warna abu-abu disini. Ini bukan tahun kita. Hanya sedikit kamu yang bisa kuceritakan disini. Tempat yang baru membuatku lupa denganmu. Ada banyak dia yang kuanggap kamu. Tapi tentu saja tidak ada yang se-istimewa kamu. Ya. Aku hanya membanding-bandingkan mereka dengan kamu.
Tiktok. Tiktok. Laci memori enam tahun yang lalu terketuk. Ada selembar catatan kecil dari kamu. Tentang bagaimana aku harus kuat menghadapi ‘itu’. Kutinggalkan beberapa semangatku disana, di setiap jeda doamu untuk kita. Ya. Kamu mulai hadir dalam setiap doaku.
Tiktok. Tiktok. Laci memori lima tahun yang lalu terketuk. Setumpuk arsip minta dibaca. Kali ini sebagian besar bukan tentang kamu. Tapi tentang banyak sekali kebetulan yang mencengangkan. Tentang takdir yang tampak enggan untuk tidak terus menerus mempertemukan aku dengan-‘nya’, sampai bingkisan-bingkisan kecil dari-‘nya’ yang hampir sama isinya dengan daftar bingkisan yang kita buat dan sepakati bersama untuk kamu beli nanti. Namun ternyata benar, dari tiap kebetulan yang mencengangkan akan hadir sedih yang tak terbayangkan. Ya. Aku malu sempat menyetarakanmu dengan-‘nya’.
Tiktok. Tiktok. Laci memori empat tahun yang lalu terketuk. Arsip-arsip ini tentang kamu yang tetap datang dengan sabarmu. Tentang kamu yang menguatkanku lagi untuk menghadapi ‘itu’. Ya ampun, takdir apa sebenarnya yang disiapkan untukku? Saat aku mulai sesedih itu, kamu pasti meyakinkanku, bahwa aku diciptakan lemah supaya kamu bisa melindungiku. Ya. Kamu yang selalu bangga pada apapun aku-lah yang akan selalu jadi kebanggaanku.
Tiktok. Tiktok. Laci memori tiga tahun yang lalu terketuk. Bait ‘lagu yang itu’ memenuhi halaman paling depan. Penuh. Maksudnya lebih lengkap dari sebelumnya. Aku mendengarnya dari dia yang lain. Dia bilang itu lagunya. Aku ragu. Aku memang tidak pernah ingat tentang ‘lagu yang itu’. Namun batinku bilang itulah lagunya. Tapi entahlah. Dia dan ‘lagunya’ tidak pernah sebagus kamu dengan ‘lagu yang itu’. Apa hanya karena aku tidak ingin dia itu kamu? Ah, ini kan cuma tentang lagu. Bukankah sudah banyak kebetulan-kebetulan lain sebelumnya? Ya. Besar harapanku bahwa kamu tidak seperti kebanyakan orang disekitarku.
Setengah jam lagi. Mataku kian bugar. Aku masih menunggu khayalku letih berlari ke belakang.
Tiktok. Tiktok. Laci memori dua tahun yang lalu terketuk. Hampir tidak ada arsip tentang kamu disini. Maaf. Tapi aku juga tidak menemukan arsip tentang aku disini. Aku tidak mencatat apapun, setidaknya hampir. Mungkin karena tidak ada kejadian yang aku ingin berlama-lama berada di dalamnya tahun itu. Kita aman dalam keletihanku. Tidak ada siapapun. Hanya ada aku yang dipaksa untuk lebih banyak tidur. Ya. Kamu juga menyarankan itu kan?
Tiktok. Tiktok. Laci memori satu tahun yang lalu terketuk. Ada setumpuk arsip warna-warni yang menutupi setumpuk abu-abu lainnya. Tidak ada satupun kamu disana, di tumpukan warna-warni maupun abu-abu. Yang warna-warni berisi tentang aku dan kebodohanku yang diceritakan dengan narasi gembira, yang dulu kubaca sambil tersipu. Yang abu-abu berisi tentang aku yang berusaha memperbaiki kebodohanku dengan kebodohan lainnya yang diceritakan dalam narasi sedih. Dengan cepat kubalik arsip itu sampai ke belakang. Namun memang tidak ada apapun dari kamu. Kemana kamu? Sudah seletih akukah kamu?
Sepuluh menit lagi. Mataku basah. Haruskah aku kembali berbasa-basi merayakan hari jadimu? Jika kunyalakan beberapa lilin di tepi jendelaku, seperti tahun-tahun sebelumnya, akan hadir lagikah kamu? Jika kutiup beberapa balon dan kuterbangkan bersama sepucuk surat, seperti tahun-tahun sebelumnya, akan hilangkah letihmu untuk mencari aku?
Tidak. Aku hanya perlu tidur. Dimulai dari tahun ini, kemudian diikuti tahun-tahun berikutnya, sampai aku terbiasa. Terbiasa untuk tidak merayakan ulang tahunmu. Terbiasa untuk berhenti mencari clue. Terbiasa untuk berhenti memimpikanmu. Terbiasa untuk melepas setiap rencanaku yang mengandung kamu. Terbiasa dengan hidup yang baru, yang tanpa kamu, walau harus abu-abu.
Happy birthday. Happy april 28th, kamu. Semoga selalu bahagia dengan kehidupanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar